Berita

ilustrasi

Bisnis

Gagal Minta Kenaikan Harga Ke China, Bubarkan Tim Renegosiasi LNG Tangguh

Lebih Baik Nunggu Kebijakan Tegas Dari Pemerintahan Baru
SENIN, 07 APRIL 2014 | 09:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Renegosiasi gas Tangguh, Papua Barat ke China tidak akan selesai tahun ini. Nasib gas yang dijual di era Presiden Megawati itu akan ditentukan oleh pemerintahan baru.

Direktur Indonesia Resources Studies (Iress) Marwan Batubara pesimis renegosiasi harga gas Tangguh selesai tahun ini. Apalagi, selama 8 tahun terakhir tidak ada perubahan. Padahal dalam kontraknya, empat tahun sekali pemerintah bisa melakukan renegosiasi harga.

Berdasarkan catatan Rakyat Merdeka, Maret 2006, Indonesia melakukan renegosiasi kontrak Tangguh dan diperoleh harga 3,35 dolar AS per Million Metric British Thermal Units (MMBTU) dengan patokan batas atas harga minyak mentah 38 dolar AS per barel.


Harga dikontrak sebelumnya sebesar 2,4 dolar AS MMBTU. Harga ditentukan berdasarkan formula dengan menggunakan harga patokan minyak (dolar AS per barel), yakni floor price (harga bawah) dan ceiling price (harga atas). Harga atas yang ditetapkan dipatok 24 dolar AS per barel.

Pada 2008, pemerintah kembali membentuk tim renegosiasi yang diketuai Menko Perekonomian Sri Mulyani berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19/2008 tentang Tim Renegosiasi Perjanjian Penjualan dan Pembelian LNG Tangguh. Namun, tim ini gagal melakukan renegosiasi gas Tangguh.

Kemudian, pemerintah membentuk lagi tim renegosiasi gas Tangguh pada Mei 2013. Tim ini dibentuk berdasarkan Keppres Nomor 16 Tahun 2013 dan diketuai Menteri ESDM Jero Wacik. Tim ini bertugas sampai akhir 2013. Tapi, lagi-lagi tim ini gagal melobi Negeri Tirai Bambu itu.

“Tidak ada langkah konkrit dari pemerintah untuk mendesak Pemerintah China menaikkan harga beli gas Tangguh,” kata Marwan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Marwan, harusnya tim-tim yang sudah dibentuk pemerintah itu bisa menaikkan harga jual gas Tangguh. Harga saat ini sangat murah jika dibanding harga gas internasional.

Padahal, kata dia, saat Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden sudah berkomunikasi dengan Pemerintah China soal renegosiasi harga itu. Pemerintah China pun memberikan lampu hijau untuk melakukan renegosiasi kontrak. Sayangnya, momentum itu tidak dilanjutkan di era kedua pemerintahan SBY.

Marwan menilai, sebenarnya pemerintah mempunyai dua pilihan soal gas Tangguh. Pertama, menaikkan harga dan kedua membatalkan kontrak dan membayar kompensasinya. Tapi semua itu akan menjadi keputusan pemerintah yang baru.

“Semoga pemerintah yang baru berani menasionalisasi sumber daya alam Indonesia dan tidak takut pada tekanan asing. Bukan malah menjual sumber daya alam kita,” ucapnya.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Ugan Gandar juga mempertanyakan hasil tim renegosiasi harga jual gas Tangguh ke China. Soalnya tidak ada hasil signifikan dari renegosiasi yang sudah dilakukan tim tersebut.
“Hingga kini, kita masih jual gas lebih murah ke China dibanding ke PLN,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR Halim Kalla mengatakan, seharusnya harga jual gas ke China sesuai  harga pasar, meski itu tidak mudah karena China tidak mau menaikkan harga. “Memang diperlukan tim yang bisa bernegosiasi dengan baik dan keras,” katanya.

Kendati begitu, Halim pesimis harga gas Tangguh bisa dinaikkan sesuai dengan harga pasar. “Maksimal harganya bisa naik dua kali lipat dari sekarang,” katanya. ***

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Wacana Penyeragaman Kemasan Bikin Pusing Industri Hasil Tembakau

Selasa, 07 Juli 2026 | 00:08

Komisi IV DPR Siapkan Tim Investigasi Tailing Freeport di Timika

Senin, 06 Juli 2026 | 23:58

MSBI-Apkasi Kolaborasi Kembalikan Kejayaan Sepak Bola RI

Senin, 06 Juli 2026 | 23:36

Korupsi Batu Bara Biang Kerok Blackout di Sejumlah Wilayah Indonesia

Senin, 06 Juli 2026 | 23:30

75 Persen Kredit Pensiunan Kini Bidik Kegiatan Usaha

Senin, 06 Juli 2026 | 23:07

RUU HAM Masih Lemah Melindungi Hak Perempuan

Senin, 06 Juli 2026 | 22:56

Tukar Pikiran Bola Nasional

Senin, 06 Juli 2026 | 22:45

Survei Terbuka IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Beberkan Cacat Metodologi Riset Online

Senin, 06 Juli 2026 | 22:39

Polri Minta Bandar Narkoba Penyerang Anggota Polres Katingan Serahkan Diri

Senin, 06 Juli 2026 | 22:21

Menaker Pastikan Isu PHK TikTok-Tokopedia Tuntas

Senin, 06 Juli 2026 | 22:20

Selengkapnya