Berita

ray rangkuti

Masyarakat Sudah Tidak Suka Lagi dengan Model Kampanye Terbuka

MINGGU, 06 APRIL 2014 | 11:33 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kampanye terbuka partai politik peserta Pemilu 2014 sejak 16 Maret lalu sudah berakhir kemarin. Namun sayang, dalam kampanye terbuka itu, banyak parpol tak mampu berbuat optimal. Sehingga seringkali tempat terlalu besar, tapi peserta tak menyentuh setengah ruangan.

"Akibatnya, kampanye parpol terkesan sepi dan lengang. Tentu saja, hal seperti ini dapat mengurangi kesan positif terhadap parpol bersangkutan," jelas pengamat Pemilu Ray Rangkuti (Minggu, 6/4).

Panggung kampanye juga lebih banyak berisi hal-hal yang terkait dengan hiburan. Bahkan dapat disebut wajah panggung kampanye terbuka lebih banyak berisi hiburan daripada pendidikan politik.


"Efeknya, sering terjadi 'pelanggaran-pelanggaran kuno' kampanye. Seperti konvoi yang mengabaikan aturan lalu lintas, saweran-saweran, pelibatan anak-anak, bahkan tarian yang menjurus kepada erotisme," beber Ray.

Efek negatif lainnya adalah sarat utama kampanye terabaikannya secara serius. Yakni penyampaian visi-misi dan program partai. Dalam pandangan Ray, tak ada diskursus disampaikan, tak tergambarkan seperti apa Indonesia ke depan dalam kampanye partai-partai tersebut.

"Panggung kampanye kita kalau tak berisi hiburan, berisi 'kenyinyiran'. Ia menjadi tempat dimana sindiran-sindiran politik merajalela. Tentu saja sindiran berbeda dengan kritik. Kritik itu nalar objektif kritis atas situasi yang berkembang di tengah masyarakat," ungkap Ray.

Terakhir, dalam pantauan Ray terkait pelaksanaan kampanye, secara nyata masyarakat sudah berubah. Model kampanye terbuka klasik sudah tak diminati. Di tengah kesadaran pemilih yang meningkat, pengumpulan massa bukanlah sarana yang tepat.

"Sekarang, di tengah fasilitas media sosial yang menjamur, pemilih pemula kita khususnya, emoh berpanas hujan hadir di panggung kampanye, atau dengan telaten menghafal wajah, nama, nomor urut, dapil, dan parpol dari taburan baliho, spanduk dan umbul-umbul yang faktanya lebih banyak mengotori ruang publik.

Karena itu hemat Ray, model tatap muka, dialog yang intens, silaturrahmi yang terus menerus, tampaknya menjadi model kampanye masa depan. "Pertanyaannya, apakah partai kita menyadari perubahan-perubahan ini atau tetap ingin bergelut dengan cara klasik yang mulai tidak efektif. Mengeluarkan banyak biaya tapi efeknya dalam mendulang suara tidak seberapa," demikian Ray. [zul]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya