. Tidak sedikit budaya dan seni Nusantara semakin terasing di negeri sendiri. Budaya-budaya lokal yang penuh kearifan dan kebijakan, kian sirna dimakan waktu yang terus berganti dan dilindas zaman yang terus berubah.
Tidak terkecuali seni dan budaya Sasaq, di Nusa Tenggara Barat (NTB). Semakin lama, seni dan budaya ini semakin dilupakan dan ditinggalkan, bahkan oleh warga Sasaq sendiri.
Tak mau larut ditelan keadaan, Lalu Gita Ariadi tergerak untuk melestarikan seni dan budaya Sasaq. Ia pun mendirikan Sasaq Institute, yang bertujuan selain untuk melestarikan seni dan budaya Sasaq, juga untuk mengembalikan cara hidup Sasaq.
Di atas tanah keluarganya seluas 5.000 meter di kawasan Puyung, Lombok Tengah, sejak tiga tahun lali, Gita pun memulai mengumpulkan benda-benda seni dan budaya Sasaq. Ia berharap, di lahan ini, ke depannya, berdiri museum sekaligus perpustakaan seni dan budaya Sasaq.
Untuk melengkapi cikal bakal museum dan perpustakaan seni dan budaya Sasaq, selain berusaha sendiri, Gita juga berharap partisipasi masyarakat. Siapa saja warga yang memiliki peralatan peninggalan seni dan budaya Sasaq, namun sulit menyimpan dan merawat, bisa menitipkan di tempatnya.
"Supaya bisa terawat dengan baik, saya ingin peninggalan seni dan budaya Sasaq dapat juga dilihat oleh anak cucu kita nanti. Saya tak ingin peralatan seni dan budaya Sasaq tersebut hilang ditelan modernisasi," kata Lalu Gita saat dikunjungi tokoh nasional asal NTB, Lalu Mara Satria Wangsa, di di Pegedengannya, Puyung (Sabtu, 5/4).
Secara perlahan Gita mulai membuat ruangan, tempat untuk bisa menyimpan mulai daur hidup manusia Sasaq sampai meninggalnya. Juga tempat menyimpan berbagai alat rumah tangga, cara bertani orang Sasaq, seperti Tenggala, Regang, dan lain-lain.
"Kami akan membuat katalog peninggalan seni dan budaya Sasaq," jelas Gita, kepada Lalu Mara, yang juga sama-sama alumni SMA I Mataram.
Dalam kesempatan ini, Lalu Mara pun sempat begending, menabuh gamelan bersama Gending Pesasaqan binaan Sasaq Institute. Gending Pesasaqan Sasaq Istitute ini sudah tampil di Jakarta, Semarang, Yogya dan sering menyambut wisatawan di Bandara Internasional Lombok (BIL).
"Kami latihan secara rutin dua kali seminggu, dan mayoritas Sekehe (pemain) masih duduk di bangku SD, SMP dan SMA. Ini juga bagian dari regenerasi Sekehe," tutur Gita.
Lalu Mara pun, sebagai putera Sasaq, menilai komitmen Gita dalam menjaga warisan leluhurnya sangat luar Biasa.
"Sebagai sahabat, Kami semua bangga dengan apa yang sudah dilakukan Gita dalam upaya melestarikan seni dan budaya Sasaq," kata Lalu Mara beberapa saat lalu (Minggu, 6/4).
[ysa]