Berita

foto:net

Dunia

Wow, Jerman Jadikan Ballerina Inggris Mata-mata di Perang Dunia I

SABTU, 15 MARET 2014 | 20:37 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang penari balet yang kerap tampil dalam panggung pertunjukkan di Spanyol selama Perang Dunia I diketahui sebagai seorang mata-mata yang membocorkan informasi rahasia kepada Jerman.

Penari bernama asli Elizabeth Bedlington tersebut diidentifikasi sebagai keledai atau 'mule' oleh pasukan sekutu yang memburunya. Namun, ia berhasil menghindar dari penangkapan dan diketahui tetap berada di Spanyol hingga akhir hayat.

Bedlington menjadi mata-mata setelah direkrut oleh suaminya yang merupakan orang keturunan Austro-Hungaria bernama Gunter Hopf. Wanita yang berasal dari London Inggris diketahui menggunakan nama La Titanesca ketika datang ke Spanyol untuk pentas. Ketika berada di Spanyol itulah, ia berhasil mendapatkan sejumlah informasi rahasia yang kemudian ia bocorkan pada pihak Jerman.


Ia digambarkan sebagai sosok wanita mata-mata yang serupa dengan Mata Hari. Mata Hari adalah nama panggung dari Margaretha Geertruida Zelle, seorang penari eksotis dan pelacur yang ditembak mati di Prancis. Namanya menjadi terkenal karena ia diketahui menjadi mata-mata bagi Jerman saat Perang Dunia I.

Kisah Bedlington beserta mata-mata perempuan lain yang bekerja untuk Jerman itu dimuat dalam sebuah buku setebal 426 halaman berjudul 'España en la Gran Guerra' atau Spanyol dalam Perang Besar. Buku tersebut ditulis oleh seorang sejarawan Spanyol bernama Fernando García Sanz.

Seperti dilansir Daily Mail pada Jumat (14/3), buku García Sanz yang baru akan dirilis pekan depan tersebut mengangkat kisah tentang mata-mata perempuan yang diketahui pernah bekerja untuk Jerman semasa Perang Dunia.

Selain Bedlington, salah satu kisah lain yang diangkat García Sanz adalah Pilar Millán Astray. Ia merupakan saudara perempuan pendiri pasukan militer Spanyol yang kemudian menjadi novelis Spanyol ternama.

Ia dilaporkan pernah mencuri dokumen dari Duta Besar Inggris bagi Spanyol untuk menyerahkannya pada Jerman tahun 1917.

Mengacu pada peran Spanyol dalam Perang Dunia, García Sanz menggambarkan negara tersebut sebagai tempat mata-mata bagi kedua belah pihak yang bertikai dalam perang. Melalui buku tersebut, ia ingin mengangkat fakta bahwa ada lebih banyak perempuan yang digunakan sebagai mata-mata selama perang, dan bukan hanya sosok terkenal Mata Hari.

"Mata Hari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mata-mata perempuan lain yang bahkan sampai saat ini belum teridentifikasi," jelasnya. [ian]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya