Politik dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mencapai kekuasaan (power). Seorang profesor ilmu politik, Miriam Budiarjo, bahkan mendefinisikan politik sebagai sebuah proses untuk menentukan tujuan dari sebuah sistim dan melaksanakan tujuan tersebut.
Politik yang memberikan porsi bagi seseorang untuk menjadi 'pengendali' sebuah sistim, bahkan dalam tataran negara, bukan tidak mungkin untuk disalahgunakan sejumlah pihak guna mendapatkan kepentingan pribadinya. Di sisi lain, pemberitaan media massa kerap mengungkapkan kabar-kabar tak sedap mengenai orang yang berkegiatan di ranah politik itu, mulai dari kasus penyelewengan dana, penyalahgunaan kekuasaan, hingga skandal hubungan pribadi.
Hal inilah nampaknya yang menginspirasi penulis muda Wenny Artha Lugina mengurai cerita mengenai skandal politik dan kisah cinta. Cerita fiksi tersebut ia kemas dalam sebuah novel berjudul The Blackside.
Novel yang akan diluncurkan besok (Sabtu, 15/3), di salah satu toko buku di bilangan Matraman tersebut mengangkat cerita mengenai seorang jurnalis yang memiliki hubungan terlarang dengan seorang menteri yang menjabat.
"Dalam hubungan terlarang tersebut diliputi oleh intrik-intrik politik," ungkap Wenny, begitu ia bisa disapa ketika berbincang dengan
Rakyat Merdeka Online petang tadi.
Perempuan yang tengah menyelesaikan studi pasca sarjana di Peking University China itu mengungkapkan bahwa The Blackside lahir dari passion dirinya dalam dunia politik, serta ketertarikan terhadap dunia jurnalistik.
Ia membocorkan bahwa The Blackside mengangkat kisah mengenai seorang perempuan yang terlihat sempurna secara fisik serta memiliki karir yang cemerlang yang harus terjerat dengan kisah cinta yang rumit dengan seorang yang berkecimpung di dunia politik. Kisah cintanya tersebut kemudian dipenuhi oleh konspirasi serta skandal.
"Politik pasti diidentikan dengan konspirasi," tutur Wenny.
Melalui The Blackside, Wenny menyebut bahwa dirinya ingin menunjukkan bahwa fenomena skandal bisa saja terjadi pada setiap orang dari kalangan manapun. Selain itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa setiap manusia, sesempurna apapun ia terlihat, pasti memiliki satu sisi kehidupan yang 'hitam' atau blackside.
"Sesempurna apapun pasti ada celah untuk sisi lain," lanjutnya.
Lebih lanjut Wenny mengutarakan rencananya ke depan untuk mengangkat novelnye tersebut ke layar lebar.
"Rencananya ingin dibuat film," ungkap Wenny sambil menambahkan bahwa saat ini ia tengah dalam proses merealisasikan rencana tersebut.
[dem]