Berita

FOTO:YONHAP

Dunia

Murayama: Abe Mewarisi Permintaan Maaf atas Kasus Perbudakan Seks

KAMIS, 13 FEBRUARI 2014 | 19:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Jepang harus berkomitmen untuk menyelesaikan masalah perbudakan seks semasa pendudukan tentara negeri Matahari Terbit itu di Korea Selatan dan negara lainnya.

Hal tersebut disampaikan mantan Perdana Menteri Jepang, Tomiichi Murayama ketika memberikan pidatonya di majelis nasional Korea Selatan pada Rabu (12/2).

Tomiichi Murayama merupakan Perdana Menteri Jepang ke-81 yang menjabat pada tahun 1994 hingga 1996. Pada tahun 1995, Murayama pernah menyampaikan pidato permintaan maaf atas kekejaman tentara Jepang selama Perang Dunia II. Permintaan maaf tersebut dikenal dengan istilah 'pernyataan Murayama' dan disampaikan dalam peringatan 50 tahun berakhirnya Perang Dunia II.


Murayama juga menyebut bahwa ia yakin Perdana Menteri Jepang saat ini, Shinzo Abe akan menghormati 'pernyataan Murayama' . Hal tersebut diungkapkan Murayama di tengah kekhawatiran Korsel jika Abe akan menolak mewarisi permintaan maaf tersebut yang juga pernah dimunculkan pada tahun 1993 oleh Sekretaris Kabinet Yohei Kono.

"Perdana Menteri Abe pernah mengatakan di parlemen bahwa ia mewarisi pernyataan Murayama. Saya menghormati dan percaya dia akan melaksanakannya," jelas Murayama seperti dilansir media Korea Selatan, Yonhap.

Permintaan maaf semacam itu telah lama dijadikan dasar pertimbangan bagi Korsel untuk menjalin hubungan bilateral dengan Jepang.

Hubungan antara Korsel dan Jepang diliputi sejumlah ketegangan. Salah satu pemicu ketegangan utama adalah penolakan Jepang untuk menyelesaikan masalah perbudakan seks serta sejumlah kekejaman yang pernah dilakukan oleh tentaranya selama periode 1910 hingga 1945, yakni ketika Jepang menduduki wilayah Semenanjung Korea. Pemicu ketegangan lainnya adalah klaim Jepang atas pulau paling timur Korsel, yakni Dokdo.

Murayama menyebut bahwa perbudakan seksual yang dilakukan oleh Jepang terhadap wanita-wanita di Korea dan negara Asia lainnya selama masa Perang Dunia II merupakan "kesalahan yang tak dapat terlukiskan'.

Korsel telah mendesak Jepang untuk bertanggung jawab atas nasib para wanita yang pernah menjadi korban budak seks. Mengingat sebagian besar korban telah berusia di atas 80 tahun dan mungkin bisa lebih dahulu meninggal sebelum mendapatkan kompensasi dan permintaan maaf dari Jepang.

Murayama menegaskan bahwa Korsel dan Jepang harus bersama-sama menghadapi sejarah demi memperbaiki hubungan.

"Bila kita ingin memperbaiki ketegangan, pertama-tama kita harus menyesali hubungan yang pernah dibangun di masa lalu dan memberikan perhatian pada hubungan yang akan dibangun di masa depan," jelasnya.[wid]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya