. Sebanyak 83 warga sipil Suriah, yang tinggal di wilayah Homs yang dikepung oleh pemerintah, dievakuasi pada Jumat kemarin (7/2). Mereka pun diminta membawa semua barang berharga yang tersisa dan meninggalkan wilayah yang disebut paling parah terkena dampak perang sipil di Suriah sejak tahun 2011 itu.
Para warga sipil tersebut kemudian berjalan ke luar wilayah Homs menuju titik pertemuan yang telah ditentukan untuk dievakuasi. Sejumlah bus dan mobil kecil PBB dan Bulan Sabit Merah menanti di titik pertemuan. Sejumlah polisi, tentara, serta relawan juga membantu jalannya evakuasi.
Evakuasi tersebut merupakan bagian dari hasil perundingan tahap pertama di Jenewa, Swiss minggu lalu. Pada pembicaraan itu, pemerintah dan oposisi tidak menemukan landasan bersama untuk menyelesaikan konflik internal mereka.
Namun, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama tiga hari di kota Homs yang terbagi dalam dua area. Arae pertama dikepung dan dikuasi pemerintah, sementara area lainnya dikuasai dan dikepung oleh oposisi.
Gencatan senjata tersebut dilakukan demi melakukan evakuasi yang dimulai pada hari Jumat kemarin. Selain itu, gencatan senjata juga dilakukan untuk memberikan akses bagi bantuan kemanusiaan agar bisa masuk ke Homs. Pasalnya tidak semua warga sipil yang berada di dalam wilayah Homs tersebut ingin dievakuasi. Namun pemberian bantuan kemanusiaan baru dapat dimulai pada hari ini, Sabtu (8/2).
Mayoritas dari warga sipil yang dievakuasi adalah perempuan dan anak-anak. Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) menyebut bahwa banyak dari para warga tersebut menderita kekurangan gizi.
"Mereka hidup mengandalkan daun, rumput, zaitun, dan apa pun yang bisa mereka temukan," kata juru bicara WFP Elisabeth Byrs seperti dikutip
al Jazeera. Sejak konflik Suriah terjadi, diperkirakan terdapat ribuan warga sipil terperangkap di Homs. Mereka terpaksa hidup dalam kondisi kurang layak karena kekuarangan pasokan makanan serta obat-obatan.
Sementara itu, wakil Menteri Luar negeri Suriah, Faisal Maqdad menyebut bahwa pemerintah menyambut baik evakuasi tersebut.
"Ini akan memperbolehkan warga sipil, anak-anak, dan orang dengan kebutuhan khusus untuk meninggalkan kota," katanya.
"Kita sangat bahagia karena kita menemukan kemungkinan untuk membawa keluar warga tersebut dan menyediakan mereka yang masih memilih bertahan di dalam Homs sejumlah bantuan kemanusiaan yang layak," jelasnya.
Lebih lanjut Maqdad juga menyebut bahwa pihaknya akan mengambil bagian dalam pembicaraan damai tahap dua yang direncakan akan digelar pada Senin (10/2).
[ysa]