. Survei merupakan sebuah cuplikan dari suatu peristiwa, keadaan maupun pemikiran orang pada masa tertentu. Karena itu, cuplikan bisa berubah atau dinamis seiring dengan perjalanan waktu.
Demikian disampaikan Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra, Aryo Djojohadikusomo, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 30/1).
"Namun disadari bahwa survei ini adalah gambaran harapan dan keinginan yang perlu dipertimbangkan serta diperhatikan," kata Aryo Djojohadikusomo, yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Tunas Indonesia Raya (Tidar).
Pernyataan Aryo ini terkait dengan hasil survei Fokus Survei Indonesia (FSI), yang menyebutkan elektabilitas Prabowo Subianto paling tinggi di antara tokoh lain. Tingkat elektabilitas Prabowo mencapai 33,6 persen, dan mengalahkan 15 nama lain yang disurvei. Di urutan kedua survei tersebut adalah Megawati Soekarnoputri dengan perolehan 18,2 persen, Aburizal Bakrie 12,3 persen, Wiranto 8,4 persen, Jokowi 5,2 persen, dan Pramono Edhie Wibowo 3,7 persen.
Berdasarkan survei ini, mayoritas publik Indonesia menghendaki Prabowo jadi presiden karena dinilai sosok pemimpin yang tegas, kuat, bisa menyelesaikan kasus korupsi, mencegah disintegrasi bangsa dan tidak dilecehkan pihak-pihak asing. Harapan tersebut anti-tesis dari kepemimpinan SBY-Boediono selama ini.
Sementara Jokowi berada di urutan bawah karena publik menghendaki agar mantan Walikota Solo itu menuntaskan dulu semua persoalan di Jakarta.
Berdasarkan survei FSI tersebut, Aryo, yang juga Caleg DPR RI dari dapil Jakarta Barat, Utara dan Kepulauan Seribu ini, melihat bahwa masyarakat, atau responden survei, menginginkan figur pemimpin Indonesia yang punya rekam jejak yang jelas. Pemimpin itu juga harus bisa menawakan solusi yang jelas pula untuk bangsa.
"Dan mereka juga melihat bahwa pemimpin yang sudah mereka pilih untuk membenahi daerah mereka diharapkan untuk menyelesaikan tugas mereka," demikian Aryo.
[ysa]