Berita

ilustrasi/net

Sigma Temukan Motif di Balik Dana Saksi

KAMIS, 30 JANUARI 2014 | 14:22 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Keinginan membiayai saksi parpol dengan menggunakan uang negara terkait dengan dengan kegagalan partai politik dalam melakukan rekrutmen dan kaderisasi anggota. Paling tidak, hal ini berdasarkan dua temuan Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Indonesia pada Pemilu 2009.

"Pertama, ditemukan bahwa parpol ternyata hanya mampu menempatkan saksi di sebagian kecil TPS saja," kata Direktur Eksekutif Sigma, Said Salahuddin, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 30/2).

Pada setiap TPS yang dipantau oleh Sigma, katanya, tidak pernah ditemukan ada TPS yang dihadiri saksi dari seluruh peserta Pemilu. Dalam perhitungan kasar, secara rata-rata hanya dijumpai 10 orang saksi dari 10 partai politik saja yang hadir di TPS, padahal jumlah peserta Pemilu pada saat itu ada 38 parpol.


"Kedua, diketahui bahwa sebagian dari saksi yang ditugaskan oleh partai politik di TPS itu ternyata bukanlah anggota dari parpol bersangkutan," ungkap Said.

Para saksi itu, lanjut Said, hanyalah tenaga lepas yang direkrut secara dadakan oleh parpol dan diberikan imbalan dalam jumlah tertentu. Ironisnya, selain tidak memiliki ikatan emosional dengan partai politik yang membayarnya, serta tidak dibekali dengan pengetahuan yang memadai tentang tugas-tugas saksi, "orang bayaran" ini justru ditempatkan di TPS hanya sekedar untuk mencatat suara yang diperoleh parpol bersangkutan di TPS tersebut.

Dari kedua catatan itu, masih kata Said, bisa ditarik kesimpulan bahwa parpol ternyata tidak memiliki anggota dalam jumlah yang memadai, sehingga tidak mampu menerjunkan kadernya sendiri untuk menjadi saksi di TPS. Parpol pun terpaksa harus mengeluarkan biaya dalam jumlah yang tidak sedikit untuk merekrut saksi bayaran itu.

"Disinilah ditemukan adanya motif di balik permintaan saksi dibiayai oleh negara. Tujuannya adalah mengalihkan tanggung jawab parpol kepada negara," demikian Said. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya