Berita

ilustrasi/net

Politisi yang Berpoligami Menuai Kecaman dari Aktivis Perempuan

RABU, 22 JANUARI 2014 | 21:01 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Politisi yang berpoligami dan memamerkan hal itu ke publik sama dengan merendahkan harkat dan martabat perempuan. Politisi yang berpoligami pun tidak memberikan teladan yang baik kepada masyarakat sehingga tidak layak dipilih dalam Pemilu 2014.

"Pemimpin yang berpoligami dan mendeklarasikan bahwa dirinya berpoligami sangat tidak baik. Ia tidak patut menjadi teladan. Yang pasti dia tukang bohong sebab kepribadiannya berubah-ubah," kata Aktivis perempuan, Gefarina Djohan, beberapa saat lalu (Rabu, 22/1).

Sejumlah politisi Indonesia diketahui melakukan poligami. Salah satunya adalah Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta yang memiliki dua istri. Hal itu diketahui saat Anis mengenalkan istri keduanya itu ke publik bulan Desember 2013. Istri kedua Anis, seorang perempuan muda yang berasal dari Hongaria, sebuah negara di daratan Eropa.


Gefarina mengatakan, Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa harkat dan martabat perempuan itu luar biasa. Namun, menurutnya, langkah pemimpin atau politisi di Indonesia saat ini melakukan poligami justru merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Oleh karena itu, kata Gefarina, masyarakat harus sadar bahwa langkah politisi atau pemimpin partai saat ini melakukan poligami justru tidak berupaya menjaga harkat dan martabat perempuan. "Tanyakan ke mereka, yang mereka kawinkan itu apakah janda-janda tua? Anak 16 kok tahun sudah dikawinin," sindir Gefarina.

Menurut Gefarina, doktrin yang dibangun saat ini adalah poligami adalah wajib hukumnya. Sehingga, lanjutnya, masyarakat umum saat ini berpandangan bahwa poligami itu syariat. Jadi, kata Gefarina, bila masyarakat menentang poligami maka menentang syariat.

"Itu salah. Islam membolehkan, tapi bukan suatu hal yang wajib. Kalau pun diperbolehkan, tapi dalam kondisi apa? Jadi kita harus memberikan kesadaran baru kepada masyarakat bahwa poligami tidak bersifat syariat. Politisi yang berpoligami kemudian dipamerkan sedemikian rupa ke publik itu sama saja merendahkan perempuan," demikian Gefarina. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya