. Pemecatan DPP Partai Demokrat terhadap mantan Ketua Komisi III Gede Pasek Suardika dari keanggotaannya sebagai anggota DPR tak pelak mengundang tanya. Pasek dianggap melanggar etika dan pakta integritas Demokrat karena dianggap membela Anas Urbaningrum. Gede Pasek yang dikenal sebagai loyalis Anas, saat ini menjabat Sekjen Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) besutan tersangka kasus Hambalang, Anas Urbaningrum yang kini meringkuk di tahanan KPK.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi mengakui, Pasek selama ini telah memberi warna bagi Demokrat di parlemen. Gaya argumentasinya yang terbangun rapi, juga piawai dalam menggalang komunikasi politik lintas partai selama di parlemen.
Selama menjadi anggota bahkan ketika duduk sebagai Ketua Komisi III DPR, Pasek dalam pandangan Ari bisa menterjemahkan kesantunan politik SBY. Mungkin ini karena latar belakang Pasek yang wartawan sehingga tahu mengemas isu menjadi menarik.
"Saya heran juga kalau Pasek sampai dipecat dari anggota DPR. Kalau saya yang jadi Ketua Umum Demokrat, tentu saja Ruhut yang akan saya pecat karena gaya komunikasi politiknya yang sering blunder dan tidak berisi. Justru orang seperti Pasek harusnya dirangkul, bukan ditendang. Entah pertimbangan karena loyalis berat Anas sehingga yang berbau Anas harus diberangus di Demokrat," kata Ari Junaedi beberapa saat lalu (Sabtu, 18/1).
Menurut pengajar di Program S1 dan S2 UI ini, tipikal Pasek dalam komunikasi politik juga memberikan pelajaran kalau dalam politik konsistensi adalah hal yang harus dipegang teguh. Pasek memperlihatkan kesetiakawanan terhadap Anas meski harus dikucilkan dan dipecat.
"Pasek, Bukan asal waton suluyo seperti Ruhut. Di Pemuda Pancasila, Ruhut, siap mati demi Yapto. Pindah Golkar, siap pasang badan untuk Akbar Tandjung. Loncat ke Demokrat, menjilat habis SBY. Nanti kalau ngelamar ke PDIP jika menjadi parpol pemenang Pemilu 2014 saya
haqul yakin akan memuji setinggi langit terhadap Jokowi hehehehe," ucap Ari Junaedi.
Masih menurut Ari, pemecatan Pasek yang hanya menyisahkan masa jabatan yang praktis hanya dua bulan kepada penggantinya akan merugikan performance fraksi Demokrat di parlemen. Kesan Demokrat sebagai parpol yang otoriter dan tersentral terhadap figur SBY juga makin kental akibat pemecatan Pasek.
[ysa]