. Saat ini, tidak ada yang meragukan bila angka elektoral Jokowi jauh di atas tokoh lain di Republik ini. Namun saat ini juga, ada yang percaya Jokowi tidak akan pernah muncul ke permukaan bila tidak dibesarkan oleh PDI Perjuangan.
Jokowi bukanlah sosok yang turun dari langit secara tiba-tiba, atau bukan pula bayi ajaib yang langsung dikenal oleh masyarakat. Kehidupan Jokowi tidak terlepas dari konteks sosial-kultural yang melingkarinya. Jokowi adalah produk sejarah dalam kurun waktu tertentu.
Dalam konteks politik, Jokowi lahir dari proses politik yang cukup panjang, dan juga berliku. Dalam konteks politik pula, Jokowi merupakan hasil dari kaderisasi yang dilakukan PDI Perjuangan secara sistematis dan terstruktur.
Lebih menukik dan mendasar lagi, Jokowi adalah hasil dari jerih payah Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dalam kondisi di luar kekuasaan, Megawati konsisten menjaga ideologi dan konsisten melakukan regenerasi secara
smooth. Maka selain Jokowi, juga muncul tokoh-tokoh muda lain yang lahir dari rahim PDI Perjuangan, seperti Ganjar Pranowo, Teras Narang dan Tri Rismaharini.
Hampir sepuluh tahun menjaga konsistensi untuk tidak tergiur dengan politik dagang sapi, PDI Perjuangan terus bergerak. Secara teratur juga, PDI Perjuangan membuat sekolah kader politik, sebagai media pembibitan kader-kader potensial. PDI Perjuangan benar-benar mau melahirkan politisi, bukan pekerja atau karyawan politik belaka.
Berbeda dengan pekerja atau karyawan politik, politisi selalu meniscayakan untuk tetap berpegang teguh pada prinsip yang dibingkai ideologi perjuangan. Jokowi, Ganjar, Teras Narang, Tri Rusmaharani bisa dikatakan sebagai politisi sesungguhnya yang tahu cara berkomunikasi dengan rakyat.
Karena lahir dari rahim PPDI Perjuangan, maka ada yang percaya, Jokowi dibesarkan oleh PDI Perjuangan. Bukan sebaliknya, PDI Perjuangan besar karena Jokowi. Dalam konteks inilah, bisa dipahami mengapa Megawati tidak bergeming dengan berbagai wacana pencapresan. Megawati sepertinya tahu, kapan waktu yang tepat untuk memberi karpet merah kepada kader-kader ideologisnya.
Sebab sekali lagi, bila diibaratkan, Megawati adalah matahari terbit, sementara Jokowi adalah ayam yang berkokok di pagi hari. Ayam berkokok di pagi hari karena matahari terbit, dan bukan sebaliknya matahari terbit karena ayam berkokok.
Megawati diyakini, sebagaimana yang sering dikatakannya sebagai kehendak alam, tahu saat yang tepat untuk menyongsong pagi. Dan Jokowi juga sepertinya tahu diri dan tahu waktu, ia baru akan berkokok setelah matahari terbit. Dari sisi ini juga terlihat, keduanya tidak sekedar punya hubungan ideologis yang sama, namun juga jejak historis yang panjang.
[ysa]