Berita

jokowi/net

Terbukti Titik Banjir Berkurang, Jokowi Tidak Layak Disalahkan

SELASA, 14 JANUARI 2014 | 20:49 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Gaya permainan kata-kata yang dilontarkan para politisi seperti Ruhut Sitompul dalam mensikapi banjir di Jakarta tidak lebih dari kedangkalan pola berpikir dan beranalisa politisi yang tidak mau belajar.

"Seharusnya politisi yang cerdas sebelum melontarkan pendapat di depan publik harus berpijak pada data dan fakta di lapangan, bukan karena faktor ketidaksukaan apalagi karena dendam politik," kata pengajar komunikasi politik di Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, terkait dengan pernyataan Ruhut dan sejumlah politisi lain yang menyebut cara blusukan Jokowi ternyata tidak bermanfaat untuk penanggulangan banjir di Ibukota.

Ari menilai Jokowi tidak layak untuk disalahkan, apalagi faktanya di era Jokowi, titik-titik banjir berkurang dibandingkan dengan gubernur sebelumnya. Secara faktual juga, masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung sudah semakin menyadari kalau banjir yang rutin datang adalah musibah yang bersama.


"Melihat kesungguhan bekerja yang ditunjukkan Jokowi-Ahok semestinya dipahami oleh politisi sekelas Ruhut. Mungkin Ruhut lupa atau pura-pura lupa dengan prestasi Foke selama ini yang tidak layak untuk dikenang?" tandas Ari Junaedi (Selasa, 14/1).

Ari kemudian merujuk data yang diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Danang Susanto bahwa jumlah titik banjir di Jakarta saat ini ada 35. Jumlah ini menurun dibanding pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke, dimana titik banjir di jaman Foke awalnya 78, terus ada Banjir Kanal Timur turun menjadi 62. Zaman  Jokowi turun lagi jadi 45 dan sekarang sudah 35 titik.

Menurut pengajar Program S2 dan S1 UI ini, pejabat semacam Jokowi-Ahok semestinya harus didukung bukan malah dihujat. Terlihat jelas kesungguhan dan konsistensi Jokowi dalam memperjuangkan warga Ibukota. Dan membebaskan banjir di Ibukota tidak semudah membalikkan tangan, sebab membebaskan banjir berarti memindahkan warga dari daerah rawan banjir. Memindahkan tempat tinggal berarti menyediakan rumah susun, dan membangun rumah susun berarti membebaskan lahan.

"Semuanya butuh waktu. Andaikan Jakarta dipimpin 1.000 orang seperti Ruhut pun, banjir di Jakarta tidak akan bisa diatasi. Beri waktu Jokowi-Ahok untuk membenahi Jakarta yang selama ini kadung acak-acakkan di era pemerintahan sebelum Jokowi," demikian Ari Junaedi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Pelita Air Libatkan UMKM Binaan Pertamina dalam PAS Sky Shop

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59

Seluruh SPPG Wajib Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Minggu

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50

19 Juta Tenaga Kerja dan Upsysteming UMKM

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25

Jokowi dan Pratikno Dituding Bungkam UI Lewat PP 75/2021

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59

Polisi Ringkus 25 Pelaku Curanmor di Bekasi

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45

Film Dokumenter “Pesta Babi” Jangan Memperkeruh Keadaan di Papua

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23

Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan!

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57

Polda Jambi Bongkar Peredaran Sabu dan "Vape Yakuza" Senilai Rp25,9 Miliar

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38

Dishub kota Semarang Gencarkan Sosialisasi ke Bus AKAP

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19

Grace Natalie: Saya Nggak Pernah Punya Masalah dengan Pak JK

Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57

Selengkapnya