Berita

Politik

Survei Prabowo Bukan Terpopuler karena Ketidaktepatan Metode

KAMIS, 09 JANUARI 2014 | 15:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Jelang perhelatan akbar pemilu 2014, keberadaan lembaga survei kian menjamur. Terlepas apakah ada pesanan dari capres atau parpol tertentu, kerja-kerja survei yang dilakukan lembaga survei dikritik kalangan pengamat. Hasil survei yang dilakukan dinilai kurang proporsional karena ketidaktepatan metode survei.

Pengamat politik Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara, menyebut beberapa lembaga survei dalam melakukan survei opini publik yang melibatkan jumlah populasi yang besar memiliki kelemahan karena tidak menggunakan sampel acak berjanjang atau multistage random sampling.

"Akibatnya, hasil survei menjadi kurang proporsional karena pendukung partai atau figur tertentu jadi kurang terwakili," kata Igor dalam keterangan persnya yang diterima redaksi sesaat tadi (Kamis, 9/1).


Padahal, lanjut Igor, dari beberapa pengamatan dan penelitian yang pernah ia lakukan dengan metodelogi penggunaan multistage random sampling, maka yang keluar sebagai Capres terpopuler saat ini adalah Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Prabowo kerap menunjukan program-program yang terasa oleh masyarakat dibandingkan dengan Capres lain yang ada saat ini.

"Dari pengamatan dan penelitian yang pernah saya lakukan, dukungan Prabowo justru meluas akibat program desa 1 miliar. Pembelaan Prabowo untuk TKI Wilfrida Soik, serta rencana pendirian Lembaga Tabungan Haji, dan lain-lain," kata Igor.
 
Selain metodologi penggunaan multistage random sampling, instrumen pertanyaan juga sangat penting ketika survei dilakukan. Karena, sangat mungkin jawaban yang disediakan oleh peneliti di beberapa lembaga survei yang ada tidak mengcover kemungkinan semua alternatif jawabannya. Akibatnya, kata Igor, responden hanya menyesuaikan katagori jawaban yang disediakan.

"Tapi coba, misalnya, jelaskan dan tanya kepada responden yang jadi sampel survei terkait manfaat desanya kalau mendapat bantuan satu miliar. Pasti elektabilitas Prabowo yang justru meroket," tukasnya.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya