rachmawati soekarnoputri/rmol
Tito Zaini Asmarahadi masygul demi menyaksikan adegan demi adegan di dalam film Soekarno. Hatinya tersayat dan tersakiti.
Begitu banyak adegan di dalam film itu yang menurutnya tidak sesuai logika, etika dan estetika plus tidak sesuai dengan jalan sejarah.
Dia sudah curiga sejak menyaksikan potongan promo film itu di layar televisi dan internet. Tetapi untuk melengkapi penilaian, dia sempatkan juga untuk menonton film produksi Raam Punjabi yang disutradarai Hanung Bramantyo itu.
Secara umum anak dari pasangan Ratna Djuami dan Asmarahadi ini menilai film itu mengkerdilkan sosok Bung Karno dan Inggit Ganarsih serta perjuangan mereka dan tokoh-tokoh lain yang mengupayakan kemerdekaan Indonesia dengan cucuran keringat dan air mata.
Dalam perbincangan dengan redaksi, Tito mengatakan, hal lain yang memaksa dirinya menonton film itu adalah rencana kunjungan utusan Hanung Bramantyo ke kediamannya di Bandung hari Kamis lalu (2/1).
"Mereka ingin memastikan sikap saya terhadap film itu. Maka saya pun terpaksa menontonnya. Sebetulnya, dari promo saya sudah bisa menarik kesimpulan bahwa film itu merusak nama baik Bung Karno yang saya anggap sebagai guru besar politik saya, dan Ibu Inggit yang membesarkan ibu saya," ujar Tito Asmarahadi.
Tito adalah anak dari Ratna Djuami dan Asmarahadi. Ibunya yang kerap disapa Ibu Omi adalah anak angkat Bung Karno dan Ibu Inggit. Ratna Djuami ikut menemani keluarga Bung Karno ke pembuangan di Ende, NTT, dan Bengkulu.
Sementara ayahnya, Asmarahadi, adalah salah seorang jurnalis dan pujangga sahabat Bung Karno yang juga ikut ke Ende.
Dalam pertemuan dengan utusan Hanung Bramantyo, kata Tito, ia menumpahkan semua kritiknya terhadap film itu dan penggambaran tokoh Bung Karno dan Ibu Inggit di dalam film itu. Ia juga menyayangkan pihak Raam dan Hanung yang tidak meminta pendapat dari keluarga Ibu Inggit mengenai adegan-adegan yang menggambarkan sosok Bung Karno dan Ibu Inggit.
"Film ini menyangkut sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Ketokohan BK sebagai salah seorang pendiri bangsa harus ditonjolkan. Bukan malah dikerdilkan dan dirusak dengan adegan-adegan yang bikin mual," kata dia lagi.
Dia juga mengkritik penggambaran rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dihadiri oleh tokoh-tokoh nasionalis dari semua daerah di Indonesia yang masih dijajah Belanda ketika itu.
"Rapat BPUPKI itu terlihat seperti rapat RT. Padahal dalam catatan sejarah, semua tokoh nasional yang berkumpul bertukar pikiran dengan santun, argumentatif dan saling menghargai perbedaan di antara mereka," masih kata Tito.
Mengenai sengketa antara Hanung Bramantyo dan Raam Punjabi di satu pihak dengan Rachmawati di pihak lain, Tito Asmarahadi mengatakan, tadinya dia mengira bahwa ada konspirasi di antara mereka demi menaikkan popularitas film ini.
Tetapi, sambungnya, utusan Hanung memastikan tidak ada konspirasi.
"Jadi, apa yang ada dipikiran Hanung membuat film seperti ini? Atau siapa yang ada di belakangnya? Tapi mereka (utusan Hanung) tak bisa memberikan jawaban," demikian Tito Asmarahadi.
[dem]