Berita

Basuki Tjahaja Purnama

Wawancara

WAWANCARA

Basuki Tjahaja Purnama: Nggak Rasional, Saya Dibilang Berpotensi Melawan Jokowi

MINGGU, 05 JANUARI 2014 | 10:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama disebut-sebut layak menjadi Capres 2014.

Tapi Ahok, panggilan akrab Basuki Tjahaja Purnama, dengan tegas menyatakan, dirinya mengurus DKI Jakarta saja.

“Itu lebih baik. Saya bekerja mengurus DKI Jakarta saja,” kata Ahok  kepada Rakyat Merdeka di Jakarta,  Selasa (31/12).


Seperti diketahui,  berdasarkan hasil survei Laboratorium Psikologi Politik UI, Ahok masuk dalam 12 kandidat capres yang dianggap mampu menjadi lawan tanding Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Namun, dalam penilaian 61 pakar, Ahok jeblok dalam stabilitas emosi.

Meskipun jeblok dari sisi stabilitas emosi, berdasarkan hasil penilaian 61 pakar, Ahok unggul dalam penilaian visioner (7,02 poin), intelektualitas (7,46 poin), komunikasi politik (7,62 poin), dan kemampuan manajerial (7,63 poin).

 Ahok selanjutnya mengatakan, hasil survei itu tidak masuk akal. Sebab, dirinya hanya menjalankan tugas mendampingi Jokowi.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa tidak masuk akal?
Sampai saat ini saya bisa bagus karena mengikuti Pak Jokowi. Kalau pak Jokowi bagus, saya tentu bagus juga.
 
Anda disebut berpotensi jadi calon lawan kuat Jokowi, ini bagaimana?
Loh, ini nggak rasional,  saya dibilang berpotensi lawan Jokowi. Kalau saya tidak mendampingi Pak Jokowi, saya pasti tidak populer.
 
Maksudnya, Anda tidak akan mampu lawan Jokowi?

Saya melihatnya jadi bias. Kalau Risma mungkin, Anies Baswedan mungkin, dan yang lainnya juga mungkin. Kalau saya bisa naik jadi nomor dua di DKI Jakarta karena ditarik Pak Jokowi.
 
Tapi kan track record Anda juga bagus?           
 Walau pun bagus, saya bisa menjadi wakil Gubernur karena Pak Jokowi.
Saya paham masyarakat pengen supaya ada calon yang lain, tapi saya tidak ke sana lah.
 
Tidak ada niat nyapres?
Saya pernah bilang cita-cita saya ingin menjadi presiden kalau memang tidak ada yang baik lagi di negeri ini.

Kalau jadi presiden bisa kontrol polisi, jaksa,  menteri, kepala daerah dan bisa keluarkan Perpu. Jadi seorang presiden bisa menyaingi 560 anggota DPR loh.
 
Kalau begitu, kenapa nggak mau nyapres?

Kan saya bilang tadi, kalau nggak ada yang lebih baik menyelesaikan masalah di negeri ini saya memilih jadi presiden. Tapi kalau masih ada yang lebih baik, buat apa.

Saya bukan orang ambisius.
 
Artinya Anda menilai  Jokowi lebih baik?
Ya. Pak Jokowi lebih baik dari saya. Saat kamapanye, saya tidak pernah minta orang pilih saya, saya malah mengajak orang pilih yang bersih. Kalau bersih bisa buktikan hartanya dari mana, transparan pakai anggran, profesional, peduli dan melayani.

Kalau ada yang lebih bersih dari saya, saya mohon kepada pemilih jangan pilih saya, karena saya tidak mau rakyat kecewa. Rakyat  harus dapatkan orang yang lebih baik.
 
Barangkali  Prabowo Subianto jadi ganjalan Anda untuk nyapres?
Tidak ada kok. saya loyal kepada beliau, tapi buat apa saya maju nyapres kalau ada yang lebih baik.
 
O ya, Anda sering terlihat keras dan marah-marah, tidak takut banyak musuh?
Pepatah Tiongkok kuno bilang, seribu teman kurang, satu musuh kebanyakan. Lalu ada lagi urusan besar jadikan sedang. Sedang jadikan kecil. Lalu kecil jadikan tidak ada urusan. Maka itu filosofi saya, jadi ketika sudah disumpah jabatan untuk menegakkan konstitusi untuk penetingan orang banyak, maka itu risiko jabatan saya.

 Saya kan mengamankan orang banyak dari beberapa orang yang tidak mau tertib.

Kalau mau tertib harus ada penegakan hukum yang tegas. Kalau aparat takut menegakkan hukum maka jangan jadi pejabat.
 
Apa selama ini ada teror atas sikap Anda yang keras dan tegas itu?
Tidak ada tuh. Lebih banyak yang mengerti atas sikap saya. Sebab, itu untuk kebaikan masyarakat banyak.
 
Kalau internal pegawai pemprov bagaimana?
Di internal relatif baik. Awalnya saja mereka agak syok atas sikap saya yang tegas begitu.
 
Apa dasarnya Anda berani?
Saya kan disumpah jabatan untuk berbuat dan bekerja sebaik-baiknya. Kalau masuk politik juga berbeda, saya masuk ke politik karena kemarahan.

Loh, marah kenapa?
Kemarahan karena saya tidak sanggup untuk membantu orang miskin dan tidak bisa lawan pejabat. Makanya saya masuk ke sini (menjadi Wagub DKI). ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya