Keluarga Inggit Ganarsih sangat kecewa dengan isi film Soekarno yang diproduksi Raam Punjabi dan disutradarai Hanung Bramantyo. Kali ini kekecewaan itu disampaikan langsung kepada Indra Gunawan, utusan Hanung Bramantyo yang datang ke Bandung untuk menemui cucu Inggit Ganarsih, Tito Zaini Asmarahadi.
Indra Gunawan mendatangi kediaman Tito hari Kamis lalu (2/1) bersama tiga orang lainnya. Dalam kunjungan itu, Indra bertanya kepada Tito apakah pernyataan yang disampaikan Tito beberapa hari sebelumnya bahwa pihak Hanung Bramantyo tidak pernah meminta izin pada keluarga Inggit Ganarsih adalah benar, atau tidak.
Tito Asmarahadi membenarkan berita itu. Ia kembali mengatakan, bahwa ibunya, Ratna Djuami, sama sekali tidak pernah memberikan izin kepada Raam Punjabi dan Hanung Bramantyo untuk menggambarkan sosok Bung Karno dan Ibu Inggit seperti di dalam film itu.
Ratna Djuami adalah anak angkat Bung Karno dan Ibu Inggit. Ia mengikuti Bung Karno dan Ibu Inggit dalam pembuangan di Ende, NTT, dan Bengkulu. Ia juga merupakan teman sepermainan Fatmawati yang kelak dipersunting Bung Karno.
"Saya katakan kepada mereka, banyak adegan yang mengecilkan Bung Karno dan perjuangannya, juga perjuangan
founding fathers kita di dalam film itu. Adegan-adegan itu tidak pantas," kata Tito dalam perbincangan dengan redaksi, Sabtu siang (4/1).
Tito Asmarahadi mengatakan, terlihat sekali bahwa kedatangan utusan Hanung Bramantyo untuk meminta dukungan dari keluarga Inggit Ganarsih. Namun, bukan dukungan yang didapatkan utusan Hanung, melainkan penegasan kembali betapa keluarga Inggit Ganarsih tersakiti oleh film itu.
Hal lain yang disampaikan Toto Asmarahadi kepada utusan Hanung Bramantyo adalah, pertemuan kru film dengan Ibu Omi beberapa waktu sebelum Ibu Omi meninggal dunia bulan Juni 2013 lalu tidak dapat disebutkan sebagai permintaan izin. Dan Ratna Djuami pun tidak pernah memberikan izin.
"Kalau itu hanya
bewara (pemberitahuan). Kalau mereka minta izin, ada konsekuensi lain, sepeti memperlihatkan isi skenario yang akan digunakan sebagai panduan untuk menggambarkan Bung Karno dan Ibu Inggit," kata dia lagi.
Belum lagi, ketika ditemui kru film
Soekarno, Ibu Omi sudah sangat sepuh dan sakit-sakitan. Memori dan pendengarannya pun sudah terganggu.
Menyadari kekeliruannya, demikian Tito Asmarahadi, utusan Hanung menyampaikan pemintaan maaf sambil mengatakan, mudah-mudahan isi film itu bisa direvisi.
"Tapi apa mungkin direvisi? Apa gunanya direvisi? Kalau mau diskusi mengenai isi film itu, ya sebelum jadi. Kalau sekarang kan sia-sia, sudah jadi barang itu," sambung Tito Asmarahadi.
[dem]