Berita

Elpiji 12 Kg

Bisnis

Pertamina Bikin Kejutan, Elpiji 12 Kg Mendadak Naik Rp 145.000

Menko Hatta Pastikan Pemerintah Tak Bisa Membatalkan
JUMAT, 03 JANUARI 2014 | 09:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Keputusan Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram (kg) per 1 Januari 2014 mendapat reaksi dari masyarakat. Sebagai konsumen, masyarakat keberatan karena harus merogoh kocek yang lebih besar lagi per bulannya.

Beberapa konsumen dan agen yang ditemui Rakyat Merdeka mengaku kecewa dengan keputusan Pertamina tersebut. Beberapa konsumen mengaku akan beralih ke elpiji 3 kg untuk mengantisipasi besarnya pengeluaran tiap bulan.

Salah seorang konsumen, Maryanih (45) mengatakan, kenaikan harga elpiji 12 kg sangat memberatkan. Angka kenaikannya juga sangat tidak masuk akal.


“Desember saja udah naik nih, sekarang naik lagi. Ini sangat memberatkan pengeluaran ibu-ibu. Kalau begini lebih baik saya pakai (elpiji) yang 3 kg saja,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Keluhan yang sama diungkapkan Nisa (38), pemilik Rumah Makan Padang di sekitar Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dia kaget dengan kenaikan harga elpiji 12 kg.

 â€œWaktu itu saya dengar memang mau naik tahun ini, saya pikir sudah dipercepat jadi Desember kemarin, karena harganya sudah naik. Tapi kini malah naik lagi,” kata dia.

Menurut Nisa, gas elpiji 12 kg ini sangat penting bagi pengusaha warung makan seperti dirinya. Dalam sehari dia biasa menggunakan 3-4 tabung elpiji 12 kg. “Buat kita itu penting, apalagi kalau lagi banyak pesanan sehari bisa butuh 7 tabung,” ungkapnya.

Nisa hanya pasrah dengan kenaikan tersebut. Kendati begitu, dia belum berencana menaikkan harga makanan yang dijualnya. Kenaikan tabung gas elpiji ukuran 12 kg ini ibarat kado pahit Pertamina ke konsumen di awal tahun 2014 ini.

Salah seorang pemilik agen di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Adi Wibowo berharap kenaikan harga elpiji ini tidak membuat masyarakat berpindah ke elpiji 3 kg.

 Ia juga meminta Pertamina tetap menjaga pasokan agar tetap stabil, sehingga tidak terjadi kelangkaan yang membuat harga semakin tinggi.

“Kayak yang elpiji 3 kg itu sering langka. Takutnya kalau nanti pasokan juga tidak ada, nanti langka, harga malah tambah mahal,” ujarnya.

Selain itu, Adi juga mendesak Pertamina lebih ketat mengawasi praktik manipulasi elpiji 3 kg dan 12 kg. Disinyalir masih banyak kecurangan terkait pengisian gas elpiji tersebut.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesi (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, kenaikan harga elpiji 12 kg memicu aksi pengoplosan elpiji 3 kg ke 12 kg. “Semakin tinggi harga semakin menimbulkan disparitas antara harga gas ukuran 3 kg dan 12 kg,” tuturnya.

Selain itu, akan terjadi perpindahan konsumen elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg karena semakin tingginya disparitas harga. Dengan adanya migrasi ini, justru akan merugikan negara karena dana subsidi 3 kg yang digelontorkan semakin besar.

“Harga satu tabung Rp 100 ribu lebih, sementara ada yang lebih murah. Pengguna elpiji 12 kg akan turun sehingga membuat pemerintah menambah subsidi untuk 3 kg,” tambahnya.

Untuk menghindari perpindahan konsumen tersebut, lanjut Tulus, sebaiknya Pertamina melakukan perubahan sistem distribusi yang tadinya terbuka menjadi sistem tertutup. Sehingga, gas elpiji 3 kg yang disubsidi negara digunakan oleh orang yang berhak mendapatkannya.

Untuk diketahui, per 1 Januari 2014 harga elpiji 12 kg dari Rp 5.850 per kg naik menjadi Rp 9.809 per kg. Sehingga harga jual dari Pertamina dari sebelumnya Rp 70.200 per tabung menjadi 117.708 per tabung. Bahkan, di beberapa perumahan, gas ukuran 12 kg dijual hingga Rp 145 ribu per tabungnya.

Pemerintah Tak Bisa Intervensi

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui, upaya Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg merupakan aksi korporasi dan tak perlu izin pemerintah. “Memang itu (kenaikan harga elpiji) adalah corporate action. Dulu memang izin, karena mencari waktu yang tepat,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Ketua Umum PAN ini berdalih, pemerintah tidak dapat mengintervensi keputusan tersebut kecuali yang terkait harga elpiji subsidi. Terlebih lagi, Apalagi, BUMN ini sudah menetapkan keputusan itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Pemerintah tidak punya wewenang untuk mengintervensi harga kecuali menyangkut subsidi bersama DPR. Tapi kalau saya punya keinginan, tentu kita tahan, jangan dulu dinaikkan,” terang dia.

Penyesuaian harga tabung gas elpiji, dinilai Hatta, karena Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah menemukan kerugian cukup besar yang menimpa BUMN Migas ini karena harga jual lebih rendah dari harga produksi.

“Jadi kami tidak bisa mengintervensi perusahaan yang sudah menetapkan bahwa kenaikan harga mulai dilakukan pada Januari ini,” ucapnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir memastikan kebijakan kenaikan harga elpiji 12 kg tak berpengaruh pada masyarakat bawah.

Alasannya, pemerintah telah menyediakan elpiji 3 kg bersubsidi yang harganya lebih murah untuk masyarakat konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro.

Terkait adanya kekhawatiran kenaikan harga elpiji 12 kg memicu migrasi konsumen ke elpiji 3 kg, Ali memastikan, Pertamina saat ini telah mengembangkan sistem monitoring penyaluran elpiji 3 kg (SIMOL3K), yang diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia mulai Desember 2013.

Dengan adanya sistem ini, perusahaan dapat memonitor penyaluran elpiji 3 kg hingga level pangkalan berdasarkan alokasi daerahnya.  ***

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

UAS Dihadang di Kutai Barat, DPR Minta Aparat Lindungi Tokoh Agama

Selasa, 07 Juli 2026 | 20:09

Jadwal Babak Perempat Final hingga Final Piala Dunia 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:51

RI Bisa Belajar dari Vietnam untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:41

Prabowo Berpeluang Akhiri Konflik Rempang dengan Standar Tata Kelola Baru

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:34

Video Parodi Kopdes Jauh dari Pemukiman Viral, Menkop Janji Evaluasi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:32

Roy Suryo Pede Menangkan Praperadilan soal Pasal ITE

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:10

ASN Pemkot Bandung Terlibat Judol Bisa Dipecat

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:50

Ledakan Guncang Damaskus di Tengah Kunjungan Bersejarah Presiden Macron

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:28

Puan Siap Tindak Lanjuti Diplomasi "Sungai Gangga dan Sungai Mahakam"

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:05

Prediksi Argentina Kontra Mesir Malam Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 17:51

Selengkapnya