Berita

sby/net

UU SJSN

IGJ: Negara Diubah Jadi Perusahaan Asuransi dan SBY Marketingnya

SELASA, 31 DESEMBER 2013 | 12:07 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Untuk bisa mendapatkan perlindungan dari negara, dalam sistem jaminan sosial nasional (SJSN), rakyat harus membayar iuran. Bila rakyat tidak mampu bayar, maka ia tidak mendapatkan perlindungan dari negara.

"Rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan diubah menjadi hanya sebagai sekedar peserta, dimana haknya hanya ditentukan oleh seberapa besar iuran yang dia bayarkan. Itulah filosofi yang menjadi dasar pembentukan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), sebuah strategi untuk menjaul asuransi secara nasional kepada seluruh rakyat," kata pengamat ekonomi-politik dari Institute for Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng, beberapa saat lalu (Selasa, 31/12).

Salamuddin mengingatkan, sistem yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ini sejatinya adalah lembaga keuangan yang otonom yang memiliki otoritas mengeruk dana masyarakat bagi pasar keuangan. SJSN dan BPJS pun ditempatkan di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebuah lembaga yang menjadi mandat Letter of Intent (LOI) International Monetary Fund (IMF) tahun 2003, yang selanjutnya dibentuk melalui program pinjaman reformasi sektor keuangan Asian Development Bank (ADB), sebagai alat untuk mengeruk uang rakyat.


"Melalui BPJS dan SJSN dilakukan privatisasi atau liberalisasi terselubung terhadap Jamsostek, Askes, Asabri dan Taspen yang sebelumnya merupakan BUMN," tegas Salamuddin.

Salamuddin mencatat, lahirnya SJSN dan BPJS akan menjadi alat sektor keuangan untuk mengeruk iuran dari rakyat, mengeruk dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atas nama iuran bagi yang tidak mampu, untuk ditempatkan di dalam pasar keuangan, dalam dan luar negeri, diinvestsikan untuk mengejar keuntungan.

"Rakyat yang sudah dikeruk pajak, dikeruk lagi melalui iuran," sesal Salamuddin.

Dengan demikian, simpul Salamuddin, SJSN dan BPJS bukanlah pelaksanaan dari tanggungjawab negara dalam melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, namun menjadi instrumen untuk melakukan eksploitasi oleh pemerintah dan pemilik modal terhadap bangsa sendiri.

"Negara telah diubah fungsinya menjadi perusahaan asuransi dan SBY beserta kabinetnya menjadi marketing," demikian Salamuddin. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Pelita Air Libatkan UMKM Binaan Pertamina dalam PAS Sky Shop

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59

Seluruh SPPG Wajib Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Minggu

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50

19 Juta Tenaga Kerja dan Upsysteming UMKM

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25

Jokowi dan Pratikno Dituding Bungkam UI Lewat PP 75/2021

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59

Polisi Ringkus 25 Pelaku Curanmor di Bekasi

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45

Film Dokumenter “Pesta Babi” Jangan Memperkeruh Keadaan di Papua

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23

Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan!

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57

Polda Jambi Bongkar Peredaran Sabu dan "Vape Yakuza" Senilai Rp25,9 Miliar

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38

Dishub kota Semarang Gencarkan Sosialisasi ke Bus AKAP

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19

Grace Natalie: Saya Nggak Pernah Punya Masalah dengan Pak JK

Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57

Selengkapnya