Berita

Politik

Inilah Tulisan yang Membuat Sri Mulyono Disomasi Pengacara SBY

SELASA, 24 DESEMBER 2013 | 22:26 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sri Mulyono sudah menerima dua kali somasi dari pangacara keluarga Presiden SBY, Palmer Situmorang. Somasi pertama diterima tanggal 14 Desember, dan kedua tanggal 20 Desember.

Pengurus Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) itu disomasi terkait pernyataannya di blog; "Dari Jeddah, SBY 'memerintahkan' KPK supaya menetapkan status hukum Anas 'tersangka'. Pernyataan Mulyono itu termuat dalam artikelnya berjudul "Anas: Kejarlah Daku Kau Terungkap".
 
Berikut ini tulisan Mulyono yang dimuat media warga Kompasiana.com, pada 14 Desember 2013 Pukul 17.06 WIB dan digunakan Palmer sebagai dasar somasi.


Anas: Kejarlah Daku, Kau Terungkap

Kejarlah Daku Kau Kutangkap merupakan salah satu film komedi yang paling berhasil yang pernah dibuat di Indonesia. Dengan akting yang cemerlang dan dialog yang cerdas, film ini menjadi film terlaris kelima di Jakarta pada tahun 1986. Ramadan dan Mona bertemu dalam sebuah pertandingan bola voli ketika Ramadan yang wartawan memotret Mona bertanding membela regu bank tempatnya bekerja. Foto Mona dimuat di koran Ramadan sebagai foto rancak berhadiah uang 10.000 rupiah. Mona ditemani Marni, rekan kerja dan teman serumahnya, berencana menuntut Ramadan karena memotret dan memuat foto Mona tanpa izin. Namun  Ramadan berhasil merayu hingga Mona jatuh cinta padanya. Mereka akhirnya menikah.

Setelah menikah, Mona pindah ke rumah Ramadan. Di sana juga tinggal Markum, paman Ramadan yang membujang meskipun punya sederet filosofi tentang wanita. Konflik mulai timbul ketika perbedaan karakter Ramadan dan Mona perlahan-lahan muncul ke permukaan. Mona bercerita pada Marni sedangkan Ramadan meminta nasihat Markum dan Panji. Campur tangan pihak luar ini justru memperkeruh kesalahpahaman dan memicu pertengkaran hebat hingga Mona keluar rumah Ramadan dan tinggal kembali bersama Marni.(sumber : wikipedia)

Cerita film diatas hanyalah sebuah ilustrasi tentang peran pihak luar yang sering kali dilibatkan dalam menyelesaikan persoalan internal. Biasanya jika ada suatu pertentangan diinternal keluarga, kelompok atau organisasi yang tidak kunjung selesai, maka ada salah satu atau kedua belah pihak akan melibatkan pihak ketiga, bisa sebatas  penasehat atau peran yang lebih besar yaitu eksekutor. Sudah jadi konsumsi public bahwa sejak kemenangan Anas pada konggres Demokrat di Bandung, SBY terus memburu Anas. akhirnya Pihak ketiga yakni KPK diundang secara resmi supaya  turun tangan untuk menetapkan “status tersangka Anas” sesegera mungkin.  Dari jedah SBY  ”memerintahkan” KPK supaya segera menetapkan status Hukum Anas “tersangka”.

Anas tersangka. Namun drama komedi belum berakhir. Anas terus menggeliat dengan keahlian komedinya dan bahkan angin mulai berubah arah menyibak tabir hitam mengungkap kebusukan tersembunyi. Hambalang yang selama ini dialamatkan ke Anas kini menerjang istana dan kroninya, ada nama Bu Pur (Sylvia Soleha), Sudi Silalahi, Widodo Wisnu Sayoko (sepupu SBY), Choel Malarangeng yang selama ini memang dekat dengan pihak Istana. Para saksi dalam sidang hambalang dengan jelas mengatakan tidak ada kaitan antara Anas dengan Hambalang.  KPK kecele, pukulan kerasnya hanya melayang di udara, kemudian memutar haluan mempermasalahkan “  dana pemenangan Anas dalam konggres Bandung”.

Pertunjukan Orchestra money politik kemenangan Anas mulai dibangun, dipropagandakan. Tidak tanggung tanggung, sejumlah petinggi Demokrat, ratusan ketua DPC  demokrat, panitia penyelenggara konggres diperiksa KPK kecuali ketua SC dan penanggung jawab konggres.  Racikan racun konspirasi aroma fitnah siap dituangkan ke dalam tungku guna “membunuh Anas”. Bahwa Anas menang karena money politik dan uangnya  berasal projek pemerintah khususnya projek Hambalang ? Dewan Pengawas Demokrat membuka kotak pos dan ada dua orang  mantan ketua DPC yang melapor bahwa telah menerima sejumlah uang dan blackberry dari timnya Anas. Tapi dua orang mantan ketua DPC ini tidak melaporkan bahwa sudah terima uang juga dari Andi M dan Marzuki Alie? Padahal semua calon ketua umum membagikan uang transport dan fasilitas lainya. KPK juga tidak menyelidik dan menyidik darimana sumber dana Andi M dan Marzuki Alie untuk pemenangan konggres ? Petinggi Demokrat Ahmad Mubarok mengatakan “Ada itu uang transport yang legal, karena itu sesuai arahan pak SBY,” bukan hanya timnya Anas yang memberikan uang transport tapi semua kandidat termasuk Marzuki Alie dan Andi Malarangeng,” Jakarta, Kamis, (12/12).

Bicara soal money politic,  Mantan Wapres Jusuf kala memprotes “mengapa uang 2,7 trilyun (bailout bank Century) bisa keluar dari Bank Indonesia dalam bentuk Cash pada hari sabtu dan minggu, bukankah sabtu, minggu bank tutup? Kemudian untuk siapa dan dikirim kemana uang sebanyak itu?  Masak uang sebanyak itu menguap atau dibuang ke laut ? sampai saat ini belum jelas siapa penerima uang hasil rampokan raksasa itu  dan anehnya KPK tidak menyidik siapa penerima uang 2,7 trilyun itu dan dipakai untuk apa? Lagi lagi KPK takut ? sebagai  gambaran, Waktu itu menjelang Pemilu Legislatif dan PilPres 2009.

Abraham Samad mengerahkan segenap kemampuan, meracik berbagai bahan dan bumbu demi kepuasan tuan rumah. Mendapat desakan dari public mengapa KPK tidak memeriksa Ibas yang telah disebut sebut  Yulianis dalam sidang? Samad mengatakan mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai, Yulianis, tidak pernah menyebut nama Edhie Baskoro Yudoyono atau yang akrab dipanggil Ibas, selama pemeriksaan di KPK (BAP). Oleh karena itu KPK tidak pernah memanggil putra bungsu presiden Susilo Bambang Yudoyono itu. Yulianis itu  orang aneh, jangan percaya orang yang suka aneh aneh”.

Pernyataan Abraham Samad yang ngotot menyebutkan nama Edhie Baskoro Yudhoyono tidak tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) KPK langsung mendapatkan bantahan dari Yulianis, Kamis malam (12/12/ ). Berikut ini kutipan langsung kultwit @Yulianis13450 Kamis malam tadi:

“Surat terbuka untuk Bpk Samad yg terhormat, Menanggapi omongan bapak di beberapa media yg sangat sembrono. Bersama ini saya menyatakan betapa bapak sangat sembrono, dan kesembronoan bapak membuat KPK blunder. Kalo bicara apa adanya, jujur, tanpa ada maksud2 apa pun bapak bilang aneh, silahkan kalo KPK beranggapan seperti itu. Bapak bilang di BAP saya tidak menyebut nama IBAS berarti Bapak belum baca BAP saya, tolong bapak BACA BAIK BAIK agar bapak tidak sembrono. Jadi pak Samad yg terhormat dan tidak ANEH…. Terima kasih atas cap ANEH bapak pada diri saya. Cukup di mata Bapak saja saya di bilang ANEH… Bukan di mata ALLAH, KELUARGA, TEMAN

Demikian surat terbuka saya untuk Bapak Samad yang terhormat, atas perhatian Bapak saya tidak mengucapkan terima kasih

Btw Pak samad…. Yg nyebut nama Ibas bukan saya aja loh, berarti semuanya aneh dong

Angin Hambalang kini berbalik menerjang Cikeas, SKK migas siap melibas Ibas, Badai Century mengancam menyapu Istana,  Kutukan Rasis dan Korup menyesakan napas Demokrat. Semua terungkap.   Tanpa disadari elektabilitas Demokrat tinggal 4,6 persen (hasil survey CSIS). Para sengkuni ciut nyali, siapa bertangungjawab? Dulu mereka teriak “Anas Harus Mundur” dan kini mereka bisu,.. KPK yang selama ini angker dan sacral dengan cepat terdegradasi ke “zona kuning” (baca tuliasn saya : KPK, Jejak keadilan terbentur kuasa). Samad terus mengulang mempertontokan kekonyolannya. Ada baiknya segera dikirim tiket  Jakarta - Makasar.  Pihak ketiga, KPK sudah terlalu dalam terlibat dalam pusaran Anas VS SBY. Para sengkuni saling sikat dan sikut, menjilat menyelamatkan diri masing masing.

Sementara itu di Rumah Perhimpunan Pergerakan Indonesia Duren Sawit, para aktivis bercengkerama, menikmati  kopi, teh dan makanan seadanya, memperbincangkan gerakan membangun Indonesia lebih baik. Tentunya kondisi kekinian perkembangan kasus Anas juga ikut dibahas. Tiba tiba Ada yang nyeletuk, Anas : Kejarlah Daku Kau Terungkap, ha ha ha. Memang  kebenaran akan terungkap. Becik ketitik olo ketoro. Salam pergerakan….
[dem]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya