Berita

Hanung Bramantyo Anggap Wajar Filmnya Dikritik

JUMAT, 20 DESEMBER 2013 | 20:55 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sineas Hanung Bramantyo menganggap wajar kritik yang ditujukan terhadap dirinya dan film terbarunya, Soekarno. Hanung menganggap kritik tersebut bagian dari kebebasan pers.

"Artinya siapapun bisa menuliskan, bisa mengambil sudut pandang dalam melihat saya dan film Soekarno," kata Hanung ketika berkunjung ke redaksi Rakyat Merdeka Online, Jumat (20/12).

Hanung menyebut pemberitaan menyudutkan tentang dirinya dan film Soekarno akibat ketidaklengkapan data. Untuk itu, katanya, diperlukan diskusi dan bertukar data sebagai bahan untuk membuat berita. "Diskusi sangat penting. Diskusi di tingkat media maupun diskusi di tingkat karya merupakan keniscayaan yang mau tidak mau mesti dilakukan. Kedatangan saya ke sini bagian untuk berdialog itu," imbuh Hanung.


Hanung menjelaskan ide film Soekarno pertama kali muncul saat dirinya membuat Sang Pencerah, film bioptik KH Ahmad Dahlan. Sang Pencerah merupakan test case bagi Hanung yang mempercayai bahwa film bergenre bioptik bisa laku di pasaran, bukan seperti keyakinan para produser. Bercermin dari film Soe Hok Gie, film yang disutradarai Riri Riza yang penontonnya tidak banyak, Hanung menggarap Sang Pencerah dengan perhitungan lain.  

"Perhitungan saya, karena berhubungan dengan founding, produser, saya datang tidak bisa dengan konten kepada produser. Beda dengan founding festival. Dengan Pak Ram (Ram Punjabi) kita tidak bisa datang hanya dengan konten. Maka saya datang dengan angka," tuturnya.

Angka yang dimaksud Hanung, warga Muhammadiyah yang tercatat ada 30 juta. Dari film Sang Pencerah, Hanung memasang target menggaet 10 persennya menonton. Bagaimana cara agar target tersebut bisa terpenuhi, Hanung bersama tim menemui pimpinan Muhammadiyah, Din Syamsuddin, untuk bertukar pikiran. Dari pertemuan kemudian disepakati perusahaan Ram Punjabi akan memodali pembuatan film, sementara Muhammadiyah memberikan dukungan moril dan menjaga konten film agar tidak melenceng. Setelah tayang, Sang Pencerah nyatanya menyedot 1,2 juta penonton.

Untuk film Soekarno, Hanung menjelaskan, awalnya dirinya menawarkan pembuatan dua tokoh yang difilmkan kepada Ram Punjabi , yakni sosok Kartini dan Soekarno. Karena trauma dengan Kartini yang pernah dibuat dan tidak laku di pasaran, Ram Punjabi setuju yang difilmkan Soekarno. Dengan logika dan pendekatan yang sama dengan film Sang Pencerah, Hanung bersama Ram Punjabi kemudian melakukan pendekatan untuk mendapat dukungan moril dari pihak keluarga Bung Karno.

Komunikasi dengan Rachmawati Soekarnoputri, cerita Hanung, bermula dari cerita opera Mahaguru. Hanung ditelepon orangnya Rachma untuk bertemu dan memberi masukan dalam gladiresik Mahaguru. Dari pertemuan muncul keinginan Rachma menampilkan Bung Karno di layar lebar. Saat itu Hanung merasa seperti mendapat jalan ke luar. Dia pun cerita ke Ram Punjabi, bahwa keinginan membuat film Soekarno menemui jalan. Sudah ada salah satu pihak keluarganya yang memberi dukungan.

"Bagaimana proses selanjutnya, semuanya saya serahkan ke Pak Ram. Saya hanya sutradara. Negosiasi perjanjian seperti apa, yang berkomunikasi mereka," kata Hanung.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya