Peserta Konvensi Capres Demokrat Ali Masykur Musa punya prediksi tersendiri mengenai siapa yang bakal menjadi pemenang di pilpres nanti. Menurutnya, yang bakal terpilih adalah calon yang bisa memadukan antara Jawa dan non-Jawa.
"Feeling saya, pasangan yang menang nanti adalah yang memiliki perpaduan. Kalau Jawa semua, sulit," ujar anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini dalam diskusi di ruang pers DPR, Jakarta (Selasa, 17/12).
Menurut Cak Ali, sapaan Ali Masykur, dalam politik harus ada keterwakilan. Sebab, prinsip dasar politik adalah representatif. Indonesia, lanjutnya, adalah bangsa yang sangat plural. Makanya, tidak boleh yang memimpin Indonesia hanya berasal dari satu etnik tertentu.
"Untuk mempersatukan Indonesia, tentu harus menyempurnakan dari aspek etniknya. Meng-generalisir Indonesia dalam satu etnik tidak boleh. Maka, yang baik harus memadukan etnik itu," lanjut Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini.
Perpaduan etnik tersebut, sebut AMM, sudah dilakukan oleh pendiri bangsa. Saat naik menjadi presiden, Soekarno memilih berduet dengan Muhammad Hatta. Soekarno dari Jawa, Hatta dari Sumatera.
"Bung Karno sudah memerhatikan perpaduan ini. Soekarno-Hatta bahkan menjadi dwi tunggal," ucapnya.
Saat ini, tambahnya, di Jawa banyak orang pintar. Di luar Jawa juga sangat banyak. Jadi, tinggal semangat untuk menyatukan saja. Dalam kesempatan itu, AMM juga menekankan pentingnya mencari pemimpin ke depan yang mau membangun pluralisme di Indonesia. Yaitu pemimpin yang tidak hanya mengakui pluralisme dari segi faktual dan ideologis, tapi dalam tataran kebijakan praktis juga harus pluralis.
"Apakah Indoensia dengan APBN yang mencapai Rp 1.700 triliun itu sudah terdistribusi dan mampu mengangkat masyarakat di Indonesia timur. Pluralis itu tidak hanya mengangkat faktual dan ideologi, tadi harus operasional. Transfer ke daerah dalam konteks APBN kita sekarang masih sangat kurang," jelasnya.
Jika hal ini terus dibiarkan, dia khawatir Indonesia ke depan akan bercerai-berai. "Ketidakadilan dalam ekonomi akan menjadi bom waktu bagi bisa menghancurkan bangsa ini," tandasnya.
[dem]