Penasihat Presiden SBY, TB Silalahi, membantah Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatur kebijakan pemerintah termasuk urusan kabinet seperti diberitakan media Australia.
Â
"Tidak benar, (pemberitaan itu) rekayasa," kata TB Silalahi saat live by phone di Metro TV (Minggu, 15/12).
The Australian memberitakan bahwa intelijen Australia menyadap telepon Ibu Negara, Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono pada 2009 silam atau ketika SBY hendak memasuki periode kedua masa kepresidenannya. Keputusan intelijen Australia, Defence Signal Directorate (DSD) untuk menyadap Ani karena didasari pada posisinya sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap SBY dan dianggap tengah menyiapkan kursi kekuasaan untuk putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono.
Dalam pemberitaannya, The Australian juga menampilkan data Wikileaks. Dalam data yang dibuat pada 2007 itu disebutkan, intelijen Australia mengorek informasi dari penasihat presiden SBY, TB Silalahi. Dalam laporan intelijen Australia dengan subjek A Cabinet of One- Indnesia's First Lady Expands Her Influence dituliskan, TB Silalahi bercerita bahwa staf presiden merasa terpinggirkan dengan pengaruh Ibu Ani itu.
TB Silalahi mengatakan berita tersebut rekayasa karena wartawan Australia pernah mengakui tidak mempunyai data ataupun copy dari sumber asli Wikileaks yang dimaksud. Kejanggalan lainnya, kenapa baru menyadap Ani Yudhoyono tahun 2009, dua tahun setelah informasi intelijen masuk.
"Dari sini saja logikanya sudah tidak benar. Saya kira itu pengalihan isu," terangnya.
[dem]