Berita

ilustrasi/net

Politik

Karyawan Newmont Tolak Pemberlakuan Larangan Ekspor

KAMIS, 12 DESEMBER 2013 | 17:45 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah dan DPR diimbau untuk mengambil jalan tengah terkait keputusan menetapkan pemberlakuan UU No 4/2009 yang melarang ekspor mentah barang tambang mineral dan batubara. Sebanyak 4300 karyawan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Provinsi NTB dan 4500 karyawan subkontraktor yang bekerja di proyek Batu Hijau PTNNT, misalnya, terancam tak lagi bekerja akibat peraturan tersebut.

"Perlu jalan tengah yang arif dan bijak. Mari kita bersama-sama memikirkan dan mendiskusikan hal ini dengan baik bukan dengan cara Gegabah. karena PT NNT adalah Perusahaan yang profesional di Negara ini," ujar Ketua SPSI PTNNT, Petrus Madi, dalam keterangannya  (Kamis, 12/12).

PTNNT adalah aset yang paling berharga buat Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa dan Provinsi NTB. Untuk itu ia berharap dilakukannya komunikasi, sosialisasi dan tidak mengedepankan ego sesaat yang akhirnya membuat karyawan PT NNT dan keluarganya menjadi korban dengan adanya keputusan Pemerintah dan DPR RI Komisi VII tertanggal 05 Desember 2013 itu.


"Sangat kami sesalkan jika Perusahaan PT NNT harus ditutup oleh Pemerintah dengan tidak mempertimbangkan dampak sosial yang akan terjadi. Beban pemerintah akan bertambah dengan banyaknya pengangguran, pengusaha kecil dan menengah banyak yang gulung tikar dan minimnya lapangan pekerjaan di Sumbawa Barat,” katanya.

Ketua Wadah Silaturahmi Karyawan Samawa (WSKS) PTNNT, Abdul Azis,  mengatakan ribuan karyawan PT NNT akan melakukan demo besar-besaran menyusul keputusan Pemerintah menetapkan pemberlakuan UU No 4/2009 yang melarang ekspor mentah barang tambang mineral dan batubara mulai 12 Januari 2014. Sebanyak 4300 karyawan PTNNT dan 4500 karyawan subkontraktor yang bekerja di proyek Batu Hijau PTNNT terancam tak lagi bekerja akibat peraturan tersebut.

"Kami meminta pemerintah melihat dan memikirkan dampak dari larangan ekspor. Kami karyawan dan anak istri kami akan sengsara karena kami akan kehilangan pekerjaan. Kami akan terus aksi ke Jakarta sampai pemerintah membatalkannya," katanya.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya