Berita

Dunia

Acara untuk Mandela Sejenak Akurkan AS dan Kuba

RABU, 11 DESEMBER 2013 | 13:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebanyak 90 pemimpin negara menghadiri upacara peringatan nasional untuk mengenang mendiang mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, di stadion sepak bola First National Bank (FNB), Johannesburg Afrika Selatan pada Selasa (10/12).

Di antara puluhan pemimpin dunia itu, hadir dua petingggi negara yang berseteru sejak masa perang dingin, Kuba dan Amerika Serikat. Tetap perseteruan ideologis itu dikebelakangkan sesaat demi menghormati Mandela. Ketika hendak maju ke podim untuk memberikan pidato, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sempat berjabat tangan dengan Presiden Kuba, Raul Castro.

Tentu saja tidak sedikit yang memuji momen langka itu. Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa momen tersebut adalah bentuk penghormatan biasa antar kepala negara, bukan sinyal akan perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba.


"Ia (Obama) benar-benar tidak melakukan lebih dari pada bertegur sapa dengan para pemimpin ketika hendak memberikan pidato, itu bukan diskusi subtantif," kata wakil Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Ben Rhodes, seperti dikutip Reuters.

Amerika Serikat dan Kuba memiliki sejarah ketegangan hubungan bilateral, terutama sejak revolusi tahun 1959 yang dimotori oleh Fidel Castro.Fidel Castro menggulingkan rezim Fulgencio Batista yang disokong Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1961, Amerika Serikat mendaratkan pasukannya ke Kuba, memanfaatkan ribuan pelarian Kuba yang sudah dipersenjatai dan dilatih perang, untuk menggulingkan Fidel Castro yang lebih memilih merapat ke Uni Soviet. Namun upaya tersebut dipatahkan Fidel dan pendukungnya. Peristiwa tersebut dikenal juga dengan nama Invasi Teluk Babi.

Jabat tangan yang dilakukan oleh Raul dan Obama tersebut merupakan momen langka kedua yang terjadi pasca Invasi Teluk Babi. Sebelumnya, pada tahun 2000, Presiden Kuba Fidel Castro yang juga merupakan kakak kandung Raul Castro, berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada pertemuan di PBB.

Amerika Serikat saat ini, kata Ben Rhodes, telah melonggarkan kebijakan larangan perjalanan dan pengiriman uang ke Kuba. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat tengah mencari kemungkinan untuk melakukan kontak lebih lanjut dengan Kuba. [ald]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

UPDATE

KDM Didukung DPRD Hentikan Alih Fungsi Lahan di Gunung Ciremai

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:49

DPD Soroti Potensi Tumpang Tindih Regulasi Koperasi di Daerah

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:25

Monumen Panser Saladin Simbol Nasionalisme Masyarakat Cijulang

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:59

DPRD Kota Bogor Dorong Kontribusi Optimal BUMD terhadap PAD

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:45

Alasan Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Pertahanan Nasional

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:22

Peran Pelindo terhadap Tekanan Dolar AS

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:59

Retribusi Sampah di Tagihan Air Berpotensi Bebani Masyarakat

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:47

DPRD Kota Bogor Evaluasi Anggaran Pendidikan dan Pelaksanaan SPMB

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:20

Noe Letto Tegaskan Tidak di Bawah Bahlil dan Gibran: Nggak Urusan!

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Jabar di Bawah Gubernur Konten Juara PHK

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Selengkapnya