Berita

Dunia

Sambil Menangis, PM Yingluck Tegaskan Tak Akan Mundur

SELASA, 10 DESEMBER 2013 | 16:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Yingluck Shinawarta tidak mampu membendung air matanya saat memberikan pernyataan akan tetap menjalankan perannya sebagai Perdana Menteri Thailand hingga kabinet baru dibentuk. Yingluck mengatakan akan tetap melanjutkan kewajibannya sebagai Perdana Menteri hingga pemilihan sela digelar 2 Februari 2014.

"Saya harus melakukan kewajiban sebagai Perdana Menteri berdasarkan konstitusi," kata Yingluck di hadapan wartawan, siang tadi (Selasa, 10/12).

Selain itu, adik kandung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra tersebut juga meminta para demonstran anti pemerintah untuk membersihkan jalan dan mendukung pemilihan sela.


"Sekarang pemerintah telah mebubarkan parlemen, saya meminta kalian untuk menghentikan protes dan semua pihak bekerja untuk pemilihan ke depan," jelasnya.

"Saya telah mundur ke titik di mana saya tidak tahu bagaimana untuk mundur lebih jauh," lanjutnya.

Sejak dimulainya protes anti pemerintah pada 24 November 2013, Bangkok dipenuhi dengan para demonstran yang menggelar unjuk rasa menuntut mundurnya Perdana Menteri Yingluck dari kursi pemerintahan karena dituding membawa pengaruh kakaknya, Thaksin Shinawatra yang mengasingkan diri setelah digulingkan melalui kudeta militer pada tahun 2006.

Tudingan tersebut muncul setelah beberapa pekan sebelumnya terdapat rancangan undang-undang tentang amnesti yang memungkinkan Thaksin Shinawarta pulang ke negaranya dan lolos dari jeratan hukum terkait kasus korupsi yang menimpanya.

Sekalipun rancangan undang-undang tersebut telah ditolak oleh senat Thailand, namun aksi protes dan tuntutan mundur terus berlangsung.

Partai Demokrat yang merupakan oposisi di Thailand mendalangi rangkaian aksi unjuk rasa yang menuntut dihapusnya pengaruh 'Shinawatra' dari Thailand dan menuntut dibentuknya dewan rakyat.

Selain aksi turun ke jalan, Demokrat juga menarik 153 anggotanya yang menduduki kursi parlemen pada Minggu (8/12). Sehari kemudian, Senin pagi (9/12), Perdana Menteri Yingluck mengumumkan pembubaran parlemen dan menetapkan adanya pemilihan sela.

Tanggal pemilihan sela ditetapkan pada tanggal 2 Februari, setelah digelar pertemuan partai pada Senin siang. Tanggal tersebut kemudian disetujui oleh Raja Thailand Bhumibol Adulyadej pada hari yang sama.[dem]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Indeks Persepsi Korupsi RI Tetap Rendah, Padahal Rajin Nangkap Koruptor

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:17

Adu Prospek Sesi II: BNBR-BRMS-BUMI, Mana yang Lebih Tangguh?

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:11

Sandiaga Uno: Jangan Masuk Politik karena Uang

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:06

Grup Bakrie Jadi Sorotan, Saham DEWA dan BRMS Pimpin Pergerakan di Sesi Siang

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:56

Angkot Uzur Tak Boleh Lagi Wara Wiri di Kota Bogor

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:53

BNBR Fluktuatif di Sesi I: Sempat Bertahan di Rp230, Kini Menguji Level Support Rp200

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:48

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Sufmi Dasco Tegaskan Pilpres Tetap Dipilih Rakyat Langsung

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:35

Ekspor Ekonomi Kreatif RI Catat Tren Positif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:29

Aplikasi jadi Subsektor Tertinggi Investasi Ekonomi Kreatif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:16

Selengkapnya