Berita

javad zarif/net

Dunia

NUKLIR IRAN

Iran Ancam Keluar dari Perjanjian Bila Ada Sanksi Baru dari AS

SELASA, 10 DESEMBER 2013 | 15:52 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, menegaskan bahwa kesepakatan tentang nuklir Iran akan berhenti bila Kongres Amerika Serikat membebankan sanksi baru terhadap negaranya.

Hal tersebut disampaikan oleh Zarif melalui wawancara dengan Majalah Time yang transkip wawancaranya dipublikasikan secara online pada Senin (9/11).

"Semua kesepakatan berakhir", kata Zarif menjawab pertanyaan mengenai sikap Iran bila kongres Amerika Serikat membebankan sanksi baru, sekalipun sanksi tersebut tidak memberikan dampak selama enam bulan ke depan.


"Kami tidak suka melakukan negosiasi di bawah tekanan, dan bila kongres (Amerika Serikat) mengadopsi sanksi, itu menunjukkan kurangnya keseriusan dan kurangnya keinginan untuk mencapai resolusi dari pihak Amerika Serikat," ujarnya.

Kesepakatan yang dimaksudkan Zarif adalah perjanjian sementara yang disepakati oleh Iran dengan enam negara kekuatan dunia yakni lima anggota tetap Dewan keamanan PBB (Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis, dan Rusia) ditambah Jerman atau disebut juga perjanjian P5+1.

Dalam perjanjian yang disepakati pada Minggu (24/11) di Jenewa, Swiss, tersebut, Iran sepakat untuk membekukan program nuklirnya. Dengan demikian PBB dan negara-negara Barat akan mencabut sanksi terhadap Iran, serta memberikan imbalan bantuan kepada Iran.

Komentar Menteri Luar Negeri Iran tersebut menyinggung kabar senator Amerika Serikat yang tengah mempersiapkan perundang-undangan untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, yang akan diterapkan dalam enam bulan dari sekarang atau bila kesepakatan yang dicapai di Jenewa menyimpang.

Seperti dikutip Reuters, Pembantu Kongres pada Senin (9/12) mengatakan bahwa Senator Demokrat yang memimpin Komite Hubungan Luar negeri, Robert Menendez dan Senator Republik, Mark Kirk tengah mendekati kesepakatan tentang undang-undang yang akan menargetkan sanksi pada ekspor minyak, cadangan devisa dan industri strategis Iran.

Namun Gedung Putih menentang rencana penjantuhan sanksi baru tersebut. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mendukung pendapat Gedung Putih tersebut. Menurut pemerintah AS, sanksi baru hanya akan menjadi kontraproduktif dan bisa memecah kesatuan P5 +1.

"Rencana penerapan sanksi baru akan membahayakan kelanjutan negosiasi damai yang tengah dijalin dengan Iran," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki. [ald]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Indeks Persepsi Korupsi RI Tetap Rendah, Padahal Rajin Nangkap Koruptor

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:17

Adu Prospek Sesi II: BNBR-BRMS-BUMI, Mana yang Lebih Tangguh?

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:11

Sandiaga Uno: Jangan Masuk Politik karena Uang

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:06

Grup Bakrie Jadi Sorotan, Saham DEWA dan BRMS Pimpin Pergerakan di Sesi Siang

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:56

Angkot Uzur Tak Boleh Lagi Wara Wiri di Kota Bogor

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:53

BNBR Fluktuatif di Sesi I: Sempat Bertahan di Rp230, Kini Menguji Level Support Rp200

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:48

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Sufmi Dasco Tegaskan Pilpres Tetap Dipilih Rakyat Langsung

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:35

Ekspor Ekonomi Kreatif RI Catat Tren Positif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:29

Aplikasi jadi Subsektor Tertinggi Investasi Ekonomi Kreatif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:16

Selengkapnya