Berita

Akibat Jenuh, Media Beritakan Tersangka Korupsi Bak Selebriti

JUMAT, 06 DESEMBER 2013 | 23:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di panggung pemberitaan, pelaku korupsi seakan bersaing dengan selebriti. Media seakan tidak tertarik memberitakan materi kasus tersangka korupsi, tapi lebih memilih sisi hiburannya.

Direktur Pemberitaan LKBN Antara Akhmad Kusaeni melihat media belakangan ini tampak jenuh memberitakan kasus korupsi karena koruptor tidak ada habis-habisnya, ditangkap satu tumbuh seribu.

"Akibatnya, media mencari angle sisi hiburannya, bukan substansinya. Makanya tersangka korupsi diberitakan bak selebriti," kata dia dalam diskusi "Sinergi Kampanye Pendidikan Anti Korupsi" di Bandung (Jumat, 6/12).


Karena kejenuhan tersebut, tambah Kusaeni, wartawan kini lebih suka memberitakan hal-hal yang menariknya, seperti berapa banyak mobil mewah milik tersangka korupsi, dan siapa saja wanita-wanita di sekitarnya.

Dicontohkan dia, dalam kasus suap Pilkada Lebak yang dikaitkan dengan Gubernur Banten Ratu Atut, pemberitaan yang diramaikan mengenai berapa biaya perawatan wajah, tas jinjing Hermes koleksi Atut, atau dimana sang gubernur belanja arloji mewah.

Menurut Kusaeni, penindakan adalah sexy buat media, sementara pencegahan kurang menarik untuk diberitakan.

Selain Kusaeni, tampil sebagai narasumber diskusi Juru Bicara KPK Johan Budi dan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Freddy H Tulung.

Johan Budi dan Freddy Tulung membenarkan bahwa liputan media soal korupsi lebih berat kepada aspek penindakannya, ketimbang upaya pencegahannya.

"Tapi penangkapan-penangkapan terhadap tersangka ternyata tidak menimbulkan efek jera. Korupsi terus berlangsung dengan skala meningkat dari segi jumlah uang yang dikorupsi maupun tersangkanya," katanya.

"Dulu KPK menangkap bupati bisa jadi berita utama. Sekarang gubernur, anggota DPR, pimpinan partai, menteri, ketua MK kita tangkap, sudah biasa," kata Johan Budi.

Berdasarkan pantau Kemeninfo atas berita-berita media tentang korupsi, sebanyak 75 persen berita yang diteliti terkait dengan penindakan. Sisanya, 25 persen berita korupsi terkait dengan pencegahan dan pendidikan budaya anti korupsi.

"Media sebaiknya tidak menjadikan liputan korupsi hanya dari segi penindakan, apalagi cuma yang terkait dengan hiburannya," ajak Freddy Tulung.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya