Berita

SBY Cawapres Ide Sesat dan Akal-akalan

KAMIS, 05 DESEMBER 2013 | 21:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ide Ketua Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Anas Urbaningrum, agar SBY maju sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2014 mendatang untuk mengatrol suara Partai Demokrat tak laik diapresiasi.

Walaupun secara hitung-hitungan logika bisa menjelaskannya, namun secara etika politik ide tersebut sangat tak layak. Terlebih, SBY sendiri sudah memutuskan untuk tak "berpolitik" termasuk istri dan anaknya, dalam kontestasi kepemimpinan nasional pada 2014.

Begitu disampaikan Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, A. Bakir Ihsan, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 5/12).


"Sosok SBY mungkin masih bisa "dijual" dibandingkan peserta konvensi Partai Demokrat. Tapi dalam politik tak cukup hanya dengan menjual demi kekuasaan, tapi ada fatsun (kepatutan) dan etika politik yang harus dipertimbangkan. Kepentingan menaikkan elektabilitas harus tetap memperhatikan etika dan kepatutan berpolitik. Dan aspek inilah yang sering diabaikan oleh politisi," tuturnya.

Bakir mengatakan semangat pembatasan jabatan presiden dua periode dalam konstitusi setidaknya bertujuan agar kekuasaan tidak absolut, ada sirkulasi dan regenerasi kekuasaan antar warga negara, dan agar tak ada kultus personal. Karena itu, pilihan dan keputusan SBY menutup ruang bagi istri dan anaknya untuk masuk dalam gelanggang kontestasi kepemimpinan nasional 2014 adalah keputusan yang sangat tepat.

"Logika pencawapresan SBY adalah sesat dan akal-akalan," imbuh Bakir.

Dikatakannya, walaupun SBY punya peluang maju sebagai cawapres, tapi sebagai presiden pilihan lebih baik adalah memberi contoh cara berpolitik yang santun.

"Mengajukan pencawapresan SBY, apa pun alasannya, sama dengan mengingkari semangat konstitusi dalam membatasi periode presiden," demikian Bakir.[dem]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya