Berita

Politik

Indonesia, Jangan Jadi Agen WTO!

MINGGU, 01 DESEMBER 2013 | 16:19 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tidak adanya kata sepakat dalam rangkaian perundingan World Trade Organization (WTO) di Genewa sebagai babak akhir sebelum pertemuan para menteri anggota di Bali 3-6 Desember nanti menambah deretan panjang kegagalan WTO dalam menggolkan Putaran Doha sejak 2001 lalu.

Kegagalan tersebut juga menebarkan optimisme di kalangan masyarakat sipil bahwa perundingan Bali akan menjumpai hal yang sama, yakni kebuntuan.

Begitu disampaikan Wakil Direktur Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Ridwan Darmawan, kepada Rakyat Merdeka Online (Minggu, 1/12).


Inti persoalan tidak tercapainya kata sepakat karena sikap ngotot Negara maju dalam WTO memaksa Negara berkembang untuk meliberalisasikan sektor-sektor strategis, antara lain sektor Pertanian. Liberalisasi pertanian ditentang oleh seluruh negara berkembang karena akan merugikan kepentingan nasionalnya, serta akan menyengsarakan para petani dan umumnya rakyat di negara-negara berkembang.

"Yang paling spesifik dari isu pertanian adalah, Barat menginginkan agar negara berkembang mengurangi subsidi sektor pertaniannya. Ini jelas ditentang oleh negara berkembang dan India yang paling keras menentang," kata Ridwan.

Kebuntuan perundingan Geneva yang berakibat pada pesimisme umum di kalangan anggota WTO akan suksesnya acara Bali, kata Ridwan lagi,  jangan sampai memunculkan sikap oportunistik dan mencari muka Indonesia di Forum WTO hanya karena Indonesia sebagai tuan rumah. Biarkan forum Bali berjalan apa adanya, jangan sampai Indonesia menjadi agen WTO.

"Kami ingatkan para delegasi Indonesia di WTO, pegang teguh Konstitusi RI khususnya Pasal 33 bahwa sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jika kesepakatan yang dihasilkan menyerahkan persoalan hajat hidup orang banyak kepada pasar atau swasta, maka itu merupakan pengingkaran terhadap prinsip demokrasi ekonomi yang terkandung dalam konstitusi," demikian Ridwan yang juga Ketua DPP Bidang Hukum & HAM Persatuan Wirausaha Muda Indonesia.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya