Berita

Politik

Tuduhan Penyadapan dari Media Australia Hanya Pengalihan Isu

SELASA, 26 NOVEMBER 2013 | 20:04 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tuduhan media Australia bahwa intelijen Indonesia melakukan penyadapan terhadap Australia dan negara-negara Barat menggunakan alat sadap dari Chinahanya pengalihan isu agar Australia tidak perlu meminta maaf terhadap Indonesia.

"Itu kan hanya tuduhan yang tidak berdasar, Australia ingin mengalihkan isu fakta penyadapan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap Indonesia. Tidak perlu direspon, karena mereka hanya menuduh tanpa memberikan bukti-bukti," ujar Ketua Fraksi Hanura DPR RI, Sarifuddin Sudding, kepada wartawan (Selasa, 26/11).
 
Untuk itu, Sudding meminta pemerintah Indonesia fokus pada permintaan maaf  serta menindaklanjuti sikap Indonesia terhadap Australia terkait fakta penyadapan sebagaimana yang dibeberkan oleh Edward Snowden. Sudding mengingatkan, serangan balik melalui berita itu jangan sampai membuat Pemerintah Indonesia kehilangan fokus dalam meminta penjelasan resmi Australia atas penyadapan yang sudah dilakukan oleh mereka.


"Saya menganggap tuduhan media Australia juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mereka  menggunakan sumber anonim, dan faktanya juga tidak bisa dibuktikan," papar Sudding.

Menurut anggota Komisi 3 tersebut, tuduhan penyadapan yang ditulis oleh media Australia berbeda dengan fakta kasus penyadapan Australia kepada Indonesia. Pasalnya, penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Indonesia telah dibeberkan dengan detil oleh Edward Snowden, lengkap dengan detail penyadapan.

"Mereka (media Asutralia) itu kan asal menuduh saja, karena tidak bisa membuktikan fakta-fakta penyadapan sebagaimana yang telah dituduhkan. Berbeda dengan hasil laporan intelijen yang dibocorkan Snowden, dilengkapid engan detail penyadapan, bahkan sampai nomor IMEI dari HP yang disadap juga dibeberkan," papar Sudding.

Tuduhan terhadap Indonesia meluncur melalui jaringan media News Corp di laman news.com.au, pada hari Selasa (26/11). Mengutip sumber intelijen Australia, Indonesia dan China disebut melakukan operasi  intelijen gabungan  yang menyasar  pemerintah dan warga Australia.

News Corp juga memaparkan, jaringan telepon pejabat, diplomat, perusahaan serta warga Australia telah disadap oleh perusahaan-perusahaan yang terkait dengan militer Indonesia.  Hasil operasi penyadapan itu lantas diserahkan kepada otoritas militer China, melalui badan intelijen militer Indonesia. [dem] 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya