Berita

Politik

Pemakzulan Boediono Sulit Terwujud

SELASA, 26 NOVEMBER 2013 | 16:42 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemakzulan Wakil Presiden Boediono sulit diwujudkan sekalipun dia ditetapkan menjadi tersangka kasus bailout Bank Century oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Irmon Machmud Irmon, mengatakan sesuai ketentuan jika presiden atau wapres menjadi tersangka dalam kasus hukum memang bisa dimakzulkan oleh DPR. Tetapi terhadap Boediono, hal itu sulit diwujudkan.

"Salah satu proses yang harus dilewati sebelum dilakukan pemakzulan adalah pernyataan pendapat dari DPR-RI. Ini tidak mudah mengingat DPR dikuasai parpol koalisi pendukung pemerintah," ujar Irmon dalam keterangannya (Selasa, 26/11).


Kalaupun PKS sebagai salah satu parpol koalisi mendukung pemakzulan bergabung dengan parpol nonkoalisi seperti PDIP, Hanura dan Gerindra saat menyatakan pendapat nanti, tapi tidak akan berpengaruh banyak karena jumlah anggota DPR dari PKS tidak banyak. Apalagi parpol koalisi seperti Partai Demokrat, Golkar, PAN, PPP dan PKB, sejak awal sudah menyatakan dukungan kepada kepemimpinan SBY-Boediono hingga akhir masa pemerintahan tahun 2014.

"Kalaupun PKS mendukung pemakzulan, saya kira tetap tidak akan melampaui jumlah suara dari parpol koalisi," ujarnya lagi.

Dikatakan Imron lebih lanjut, walaupun KPK menemukan bukti kuat yang bisa menjadi dasar hukum untuk menetapkan Boediono sebagai tersangka dalam kasus Bank Century, hampir dapat dipastikan penetapan tersangka tersebut baru dilakukan KPK setelah Boediono mengakhiri masa jabatannya sebagai wapres dengan pertimbangan mencegah kemungkinan terjadinya keguncangan politik.

"Saya lihat KPK memang semakin intensif mengusut kasus Bank Century, namun saya yakin jika Boediono akan dijadikan sebagai tersangka nanti setelah tidak lagi menjadi wapres," katanya.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya