Berita

Jangan Lagi yang Berlaku Demokrasi Prabayar!

RABU, 20 NOVEMBER 2013 | 12:06 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tak dapat dipungkiri bahwa permasalahan bangsa ini amat kompleks. Karenanya, pemimpin terpilih di Pemilu mendatang harus jadi solusi.

Tokoh nasional DR. Rizal Ramli mengharapkan demokrasi yang berlaku di Pemilu 2014 dan pemilu-pemilu mendatang bukan lagi demokrasi pra bayar. Dengan begitu, pemimpin hasil pemilu benar-benar sesuai dengan yang diharapkan, bisa menjalankan tugas dan kewajiban mewujudkan kesejahteraan sepenuhnya untuk rakyat.

"Demokrasi kita ini istilah saya demokrasi pra bayar. Ingin punya pulsa bayar dulu setelah itu tidak dapat apa-apa lagi. Pemimpin dipilih karena bayar 100 ribu, setelah terpilih mereka korupsi dan tidak berbuat apa-apa untuk rakyat. Setelah terpilih mereka bilang mau ngapain lagi, kan sudah bayar," ujar tokoh oposisi nasional DR. Rizal Ramli ketika jadi pembicara dalam seminar "Martabat dan Kemandirian Bangsa untuk Kesejahteraan Rakyat" di Auditorium lantai 8 Universitas Jaya Baya, Jakarta, Rabu (20/11).


Untuk itu Rizal Ramli mengajak untuk melaksanakan demokrasi di pemilu-pemilu mendatang adalah demokrasi pasca bayar. Pilih pemimpin bukan karena diberi uang Rp 100 ribu tetapi karena pertimbangan-pertimbangan antara lain integritas dan kopetensi. Pemimpin yang terpilih pun otomatis berbuat untuk kepentingan rakyatnya, bukan untuk kebaikan dirinya sendiri dan kelompoknya.

"Kita harus ubah demokrasi prabayar jadi demokrasi pasca bayar," seru ekonom senior itu.

"Pilih pemimpin yang bagus, pemimpin yang amanah. Jangan berharap uang 100 ribu dari calon pemimpin karena setelah itu mereka korupsi dan tidak berbuat apa-apa," demikian Rizal Ramli, yang juga Menkoperekonomia era Pemerintahan Abdurrahman Wahid.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya