Berita

ilustrasi/net

Politik

Lawan Penyadapan dengan Pembenahan Alutsista BIN

SENIN, 18 NOVEMBER 2013 | 19:44 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Badan Intelijen Negara (BIN) harus segera melakukan sterilisasi dan pengamanan sistem pertahanan jalur komunikasi khusus bagi ponsel milik kepala negara dan pejabat lembaga negara penting lainnya menyusul informasi penyadapan yang dilakukan pemerintahan Australia, AS dan Inggris.

Begitu disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Law Reform Institute (Ilrins), Jeppri F SIlalahi dalam pesan elektoniknya kepada redaksi, Senin (18/11).

Jeppri mengatakan penyadapan yang dilakukan pemerintahan Australia, AS dan Inggris terhadap kepala negara dan pejabat lembaga negara penting lainnya harus serius disikapi, antara lain dengan melakukan pembenahan. Untuk keperluan pengamanan komunikasi, kata Jeppri menekankan, sudah seharusnya BIN memiliki alutsista yang berbasiskan teknologi komunikasi canggih. DPR dan Pemerintah harus memprioritaskan keperluan alutsista yang dibutuhkan BIN untuk menjaga kedaulatan NKRI.


Selain itu, rekruitmen terhadap putra putri bangsa yang mempunyai kualitas tinggi di bidang teknologi juga harus dilakukan karena kedepan kita akan menghadapi perang teknologi spionase.

"Kita berharap pemerintah tidak mengelak dan menjawab bermental inferior,dengan mengatakan negara Jerman saja bisa disadap. Sudah saatnya kita sebagai bangsa yang besar berbenah diri dan mepertahankan kedaulatan dengan memberikan sanksi diplomatik bagi negara-negara yang melakukan penyadapan di Indonesia," ujarnya.

Penyadapan yang dilakukan AS, Inggris dan Australia, kata Jeppri, sudah menggangu martabat dan kedaulatan terkait dengan informasi strategis dan dapur rahasia negara.  Dia mengatakan penyadapan sangat mungkin dilakukan Inggris maupun Australia dan AS untuk upaya menyandera secara politik terhadap para pejabat pemerintah Indonesia.

"SBY presiden sekaligus pengambil kebijakan partai, tentu ada pembicaraan-pembicaraan yang bersifat privasi atau rahasia dalam urusan partai politiknya. Dikhawatirkan ada pembicaraan yang tidak biasa dalam rekaman penyadapan dan nanti digunakan untuk bargaining politik dalam memuluskan kepentingan mereka di Indonesia," tutur Jeppri lagi.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya