Berita

mahinda rajapksa/net

Dunia

Tuan Rumah Commonwealth Summit Dihantui Isu Pelanggaran HAM

JUMAT, 15 NOVEMBER 2013 | 17:14 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemimpin Negara Persemakmuran Inggris (Commonwealth) berkumpul di Kolombo, Sri Lanka pada Jumat (15/11) untuk pertemua dua tahunan (commonwealth summit).

Melalui pertemuan yang berlangsung selama dua hari 15-17 November itu,  Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa berharap sekaligus mendapat dukungan bagi pembangunan ekonomi di Sri Lanka. Namun, seperti dikabarkan Reuters, penyelenggaraan pertemuan tersebut dibayangi tuduhan atas sejumlah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan pemerintah terhadap kelompok minoritas Tamil. Hal tersebut memunculkan sejumlah tekanan politik, terutama dari sesama negara anggota Commonwealth.

Sekalipun menghadiri pertemuan, namun Perdana Menteri Inggris David Cameron melalui akun twitternya, @David_Cameron menegaskan kepada Rajapaksa bahwa  permasalahan HAM yang terjadi di Sri Lanka merupakan hal yang disorotinya dan tengah dalam proses investigasi.


Sebelumnya, Perdana Menteri India Manmohan Singh, Perdana Menteri Kanada Stephan Harper dan Perdana Menteri Mauritian Navinchandra Ramgoolam juga menyatakan bahwa negaranya memboikot dan menolak hadir pada pertemuan tersebut sebagai bentuk atas pelanggaran hak asasi yang belum diselesaikan oleh pemerintah Sri Lanka.

Menanggapi hal tersebut, pejabat Kolombo menyayangkan protes tersebut dan menyebutnya sebagai intervensi negara asing jelang pertemuan Commonwealth. Padahal negaranya tengah melakukan rekonsiliasi yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat. Selain itu, Rajapaksa menegaskan bahwa negaranya tidak menyembunyikan apapun, termasuk masalah pelanggaran HAM.

"Kita di Sri Lanka tengah melangkah ke era baru untuk perdamaian, stabilitas dan kesempatan peningkatan ekonomi," katanya di depan kepala negara dan pejabat dari 49 negara Persemakmuran Inggris yang hadir.

Permasalahan HAM yang terjadi di Sri Lanka berlatar pemberontakan kelompok minoritas Tamil terhadap pemerintah yang terjadi selama 26 tahun. Pemerontakan baru berhenti pada tahun 2009 ketika pemerintah melakukan serangan besar-besaran terhadap kelompok Tamil. Data PBB menyebutkan bahwa sekitar 40.000 warga sipil Tamil tewas di bulan terakhir serangan pemerintah tersebut. [ald]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Indeks Persepsi Korupsi RI Tetap Rendah, Padahal Rajin Nangkap Koruptor

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:17

Adu Prospek Sesi II: BNBR-BRMS-BUMI, Mana yang Lebih Tangguh?

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:11

Sandiaga Uno: Jangan Masuk Politik karena Uang

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:06

Grup Bakrie Jadi Sorotan, Saham DEWA dan BRMS Pimpin Pergerakan di Sesi Siang

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:56

Angkot Uzur Tak Boleh Lagi Wara Wiri di Kota Bogor

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:53

BNBR Fluktuatif di Sesi I: Sempat Bertahan di Rp230, Kini Menguji Level Support Rp200

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:48

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Sufmi Dasco Tegaskan Pilpres Tetap Dipilih Rakyat Langsung

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:35

Ekspor Ekonomi Kreatif RI Catat Tren Positif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:29

Aplikasi jadi Subsektor Tertinggi Investasi Ekonomi Kreatif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:16

Selengkapnya