. Pendidikan merupakan salah satu masalah utama yang harus dibenahi demi meningkatkan mutu tenaga kerja Indonesia.
Pasalnya, fakta yang ada berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tenaga kerja Indonesia masih didominasi lulusan sekolah dasar yang mencapai angka 56 juta. Sementara tenaga kerja terdidik lulusan Perguruan tinggi hanya sebanyak 6,1 juta.
Demikian disampaikan Deputi I Bidang Koordinasi Fiskal dan Moneter Menko Perekonomian, Bobby Hamzar Rafinus, dalam pembukaan acara bertajuk Indonesia Employement Forum pada Rabu siang (13/11) di Universitas Airlangga Surabaya.
Kata Bobby, yang menggantikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai pembuka acara tersebut, kualitas dan pemerataan pendidikan memberikan dampak signifikan bagi produktifitas tenaga kerja. Hal itu pula lah yang menghambat langkah Indonesia untuk maju sebagai pemain global.
"Untuk bisa jadi pemain global, Indonesia harus meningkatkan 6 persen produktifitas tenaga kerjanya," jelas Bobby.
Karena kualitas dan produktifitas tenaga kerja yang masih tergolong rendah itu pula lah yang membuat Indonesia dalam permasalahan serius dalam menghadapi persiangan global, salah satunya dalam menghadapi ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, kompetisi dan persaingan tenaga kerja antar negara ASEAN akan sangat terbuka.
"Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan arah perkembangan global yang harus disiapkan," demikian Bobby.
[ysa]