Berita

noorsy/net

Pemerintah Tidak Siap Disebut Gagal

KAMIS, 31 OKTOBER 2013 | 06:27 WIB | OLEH: ICHSANUDDIN NOORSY

SEBULAN ini publik Indonesia disajikan berbagai ukuran keberhasilan atau kemandekan pembangunan ekonomi Indonesia. World Economic Forum melaporkan bahwa indeks persaingan Indonesia pada 2013-2014 meningkat dari peringkat 50 ke peringkat 38.

Membaiknya peringkat ini tentu membanggakan bagi mereka yang berpaham persaingan-isme.  Namun tidak membanggakan jika peringkat itu dibandingkan dengan peringkat Brunei (26), Thailand (37) dan Malaysia (24). Juga merupakan prestasi yang biasa saja kalau melihat melihat indeks kinerja logistik. Untuk indeks ini Indonesia di peringkat 59, membaik dari posisi 75, Thailand dari posisi 35 ke 38, dan Malaysia tetap di posisi 29.

Bisa jadi angka-angka ini yang membuat anak usaha Bank Dunia, International Finance Corporation memuji Indonesia. Tapi belum juga angka-angka keberhasilan itu memberi makna mendalam, muncul penilaian Bank Dunia dalam Doing Business (Kemudahan Berbisnis).
Menurut ukuran Bank Dunia dalam soal kemudahan berbisnis, peringkat Indonesia di posisi 120, Malaysia di peringkat keenam, Thailand peringkat ke-18, Brunei Darussalam di posisi ke-59, Vietnam di peringkat ke-99 dan Filipina di urutan ke-108. Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja yang berada di peringkat ke-137. Lalu ditambah lagi dengan indeks kesejahteraan menurut Legatum Institute yang memposisikan Indonesia di peringkat 69. Sementara Malaysia, Vietnam, Thailand dan Filipina masing-masing di posisi 43, 50, 54 dan 61.

Menurut ukuran Bank Dunia dalam soal kemudahan berbisnis, peringkat Indonesia di posisi 120, Malaysia di peringkat keenam, Thailand peringkat ke-18, Brunei Darussalam di posisi ke-59, Vietnam di peringkat ke-99 dan Filipina di urutan ke-108. Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja yang berada di peringkat ke-137. Lalu ditambah lagi dengan indeks kesejahteraan menurut Legatum Institute yang memposisikan Indonesia di peringkat 69. Sementara Malaysia, Vietnam, Thailand dan Filipina masing-masing di posisi 43, 50, 54 dan 61.

Yang menarik, Bank Dunia pun menilai bahwa kini jumlah kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 114 juta orang dari total penduduk sekitar 240 juta.

Saat yang sama, Utang Luar Negeri Indonesia mencapai 2.274 miliar dolar AS, yang di tahun 2014 jumlahnya diperkirakan bertambah 345 miliar dolar AS. Beriringan dengan hal itu, Gini rasio, sebagai indikator ketimpangan juga terus meningkat menjadi 0,43. Beberapa ekonom bahkan memperkirakan rasio ketimpangan itu sudah mendekati 0,5 yang berarti bangsa Indonesia sudah berada di ambang pintu kerusuhan sosial.

Prediksi ini layak dipertimbangkan karena urbanisasi terus meningkat, penduduk perkotaan yang tinggal di daerah kumuh sudah mencapai 27 persen, lahan pertanian terus menyusut, jumlah petani gurem dalam 10 tahun terakhir ini bertambah 5 juta orang di tengah penguasaan lahan pertanian oleh korporasi terus bertambah.

Yang juga mengkhawatirkan, pulau Jawa tetap menguasai kue pertumbuhan ekonomi mencapai 57,8 persen dan dikuasai DKI sebesar 16,5 persen.

Alhasil, ukuran-ukuran keberhasilan Indonesia dihadang oleh fakta ketimpangan pendapatan, ketimpangan struktural, ketimpangan sektoral, ketimpangan regional, ketimpangan intelektual, dan ketimpangan sosial lainnya. Melekat dengan ketimpangan itu adalah persoalan korupsi yang menyebar hingga ke lapis bawah masyarakat dan masalah politik dinasti sebagai wujud politik munafik.

Dengan demikian, menggunakan takaran keberhasilan diukur oleh Barat ternyata berbeda dengan takaran yang ada. Lebih tidak menyenangkan lagi jika menggunakan ukuran konstitusi.

Pasal 23 UUD 1945 (tentang APBN untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat), pasal 27 ayat (2, tentang penghidupan dan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan), pasal 28 (tentang perumahan dan kesehatan), pasal 31 (tentang pendidikan, guna mencerdaskan), pasal 33 (ayat 1, 2, dan 3 tentang perekonomian berbasis pada kepentingan nasional dan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat), dan pasal 34 (tentang fakir miskin dan anak terlantar) sebenarnya wajib digunakan sebagai ukuran apakah pembangunan ekonomi sudah sesuai dengan amanat konstitusi.

Saya jadi teringat bagaimana Pemerintah menolak habis-habisan untuk memasukkan sasaran penurunan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pada indikator perekonomian makro sebagai sasaran APBN. Penolakan ini menunjukkan Pemerintah tidak siap untuk disebut gagal, jika tidak mau dikatakan belum mau melaksanakan amanat konstitusi.

Tentu saja lezat menggunakan ukuran keberhasilan menurut Barat. Namun akan lebih nikmat jika menggunakan ukuran konstitusi. [***]

Penulis adalah ekonom senior, serta sempat menjadi Managing Director Lembaga Studi Kebijakan Publik dan Tim Ahli Pusat Studi Kerakyatan UGM.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Kasus Video CCTV Restoran, Nabilah O’Brien Siap Hadiri RDPU Komisi III DPR

Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:16

Indeks Utama Wall Street Berguguran Saat Perang Diprediksi Berlangsung Lama

Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:03

Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Saham, Ini Sektor yang Paling Terdampak

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:49

Bursa Eropa Terguncang: Harga Energi Melonjak, Saham Berguguran

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:38

Putin Diduga Bantu Iran Bidik Aset Militer AS di Timur Tengah

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:21

Menkeu Berencana Tambah Penempatan Dana Rp100 Triliun ke Perbankan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:03

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bedah Pemikiran Islam Bung Karno: Posisi RI di Board of Peace Jadi Sorotan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:32

Roy Suryo Cs Berpeluang Besar Lolos dari Jerat Hukum

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:19

Kalam Kiai Madura

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:13

Selengkapnya