Berita

ilustrasi/net

DPR Minta KPK Usut Suap Perusahaan ATM AS ke Pejabat Bank Pemerintah

KAMIS, 24 OKTOBER 2013 | 09:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Erik Satrya Wardana prihatin atas terjadinya kasus dugaan suap yang melibatkan pejabat di tiga bank milik pemerintah.  Selain menyatakan prihatin, Erik juga meminta kepada KPK, Menteri BUMN, BI serta Menteri terkait mengusut kasus yang memalukan tersebut, agar persoalan ini tidak menjadi pergunjingan dan kasak kusuk yang tidak berujung.

"Terungkapnya kasus tersebut sangat memalukan bangsa Indonesia sekaligus merugikan citra perbankan Indonesia. Oleh karena itu, saya meminta kepada KPK, Menteri BUMN, BI serta menteri-menteri terkait agar mengusut kasus ini," kata Erik, (Kamis, 24/10).

"Pengungkapan kasus suap ini perlu dilakukan agar tidak hanya menjadi rumor yang merugikan institusi perbankan Indonesia di mata dunia," sambung dia.


Securities and Exchange Commission (SEC) yang berkantor di Amerika Serikat melansir sebuah dokumen yang menyatakan bahwa Diebold Inc, perusahaan ATM yang bermarkas di Ohio, AS, melalui anak usahanya di Indonesia, diduga melakukan penyuapan terhadap pejabat di tiga Bank BUMN. Suap diberikan guna mempengaruhi keputusan pembelian mesin ATM.

Dalam laporannya, SEC juga menyampaikan Diebold berhasil meraup pendapatan hingga 16 juta dolar AS di Indonesia dalam penjualan mesin ATM ke Bank BUMN. Bentuk penyuapan antara lain berupa biaya perjalanan pejabat bank pelat merah itu ke Eropa dan Amerika, biaya hiburan serta hadiah-hadiah. Tidak tanggung-tanggung, jumlah dana yang dikeluarkan Diebold Inc mencapai lebih dari 147 ribu dolar AS atau sekitar Rp 1,6 miliar.

Menurut anggota Fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat ikut masuk mengusut dugaan penyuapan pejabat di tiga bank milik BUMN tersebut, agar dapat diketahui kemungkinan terjadinya kerugian negara dalam kasus tersebut.

"KPK juga harus memberi perhatian pada kasus ini. Sebab jika ada penyuapan, biasanya ada permainan yang tidak fair, sehingga boleh jadi ada kerugian negara di dalamnya," ujar Wakil Rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Barat ini.[zul]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya