Berita

dipo alam/net

Dipo Alam Tegaskan Tak Membenci PKS

JUMAT, 18 OKTOBER 2013 | 11:21 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sekretaris Kabinet Dipo Alam memastikan bahwa dia sama sekali tidak membenci Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bahkan, ia bersimpati pada PKS, terutama ketika banyak relawan PKS mengangkat mayat empat hari setelah Bencana Tsunami di 2014.

"Saya bangga kepada mereka dan ikhlas sumbang mereka apa adanya. Keikhlasan kepada PKS seperti perjuangan ini yang dirindukan, ikhlas," kata Dipo Alam, melalui akun twitter-nya @dipoalam49, beberapa saat lalu (Jumat, 18/10).

Dipo Alam pun mengingatkan kader PKS agar tanggung jawab hukum tidak diaduk dengan silat lidah politik dalam Pengadilan Tipikor. Sebab bila itu terjadi justri akan merugikan kader PKS yang ikhlas berjuang


Perang pernyataan antara Dipo Alam dan elit PKS mencuat beberapa waktu lalu, seiring dengan kesaksian Luthfi Hasan di Pengadilan Tipikor yang menyebut bahwa Bunda Putri dekat dengan SBY.

Dipo Alam pun  menyarankan PKS untuk segera mempercepat pelaksanaan Munas untuk mengganti Presiden partai yang kini dijabat Anis Matta. Menurut Dipo, dengan mengganti Anis, borok-borok PKS akibat kasus korupsi bisa dibersihkan.

Menyikapi omongan, Dipo, Ketua Fraksi PKS yang juga Ketua DPP PKS, Hidayat Nur Wahid, meminta Presiden SBY menegur pembantunya tersebut. Menurut Hidayat, statemen Dipo Alam sudah terlalu jauh melampaui tupoksi sebagai Seskab. Padahal, sebagai pembantu Presiden SBY ada banyak hal yang harus dia selesaikan.

Hidayat justru mempertanyakan maksud Dipo menyarankan percepatan Munas tersebut. Ditambah lagi, Dipo juga mengaku berkomunikasi dengan kader-kader muda PKS yang konon resah dan siap mengambilalih kepemimpinan PKS.

"Apakah dia ingin memecah belah internal PKS? Ini serius, Pak SBY harus menegur Seskab. Apalagi kalau Dipo berhubungan dengan aktivis PKS memakai jam kerjanya sebagai Seskab. Padahal Pak SBY sudah mengingatkan para pembantunya untuk fokus bekerja. Kalau perlu jangan pulang sebelum selesai," tandas Hidayat. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya