Ilham Aliyev kembali menduduki posisi Presiden Azerbaijan untuk ketiga kalinya setelah menang pada pemilihan umum yang digelar Rabu (9/10) kemarin.
Namun, kemenangan Aliyev digugat terutama oleh penentang utamanya, Jamal Hasanly yang kemarin, berencana menentang hasil Pemilu di Mahkamah Konstitusi atas tuduhan pelanggaran pemilu termasuk penggelembungan suara dan pemilih ganda yang direkayasa oleh Aliyev.
"Pemilu ini adalah tidak bebas dan adil," kata Hasanly seperti dilansir Al-Jazeera
Pemilu yang melibatkan sekitar 5 juta pemilih Azerbaijan itu telah memunculkan Aliyev sebagai pemenang dan mengalahkan para pesaingnya dengan hampir 85 persen suara.
Pemantau internasional dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (International monitors from the Organisation for Security and Cooperation in Europe/OSCE) mengatakan bahwa pemungutan suara tersebut 'sangat cacat', karena telah dirusak oleh upaya Aliyev sebagai calon incumbent yang melakukan pengekangan terhadap media dan dugaan intimidasi terhadap calon lainnya juga terhadap para pemilih.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengatakan setuju atas laporan OSCE dan menilai bahwa pemilu negara pecahan Uni Soviet tersebut jauh dari standar internasional.
Aliyev yang merupakan anak mantan presiden Azebaijan Heydar Aliyev dalam kepemimpinannya berhasil mengontrol ledakan ekonomi yang meningkatkan standar hidup negaranya. Dengan letak geografis Azerbaijan yang strategis antara Rusia dam Iran, Aliyev manfaatkan untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara lain. Salah satunya adalah dengan memompa minyak dan gas ke Eropa, melewati Rusia. Aliyev juga mengijinkan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayahnya sebagai tempat transit untuk mengirimkan pasukan ke Afghanistan.
Di samping itu, kepemimpinannya mendapatkan kritik, baik dari internal negaranya maupun dari masyarakat internasional. Dalam pemerintahannya, ia mengontrol ketat media. Disamping itu, kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan bahwa ia juga merancang peningkatan tindakan keras pra pemilu.
Aliyev juga diduga melakukan tindakan korupsi dan membuat jurang kesenjangan ekonomi antara masyarakat kaya dan miskin semakin lebar. Ia juga dinilai telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan berbagai kerusuhan terhadap pihak-pihak yang menentangnya.
[zul]