Berita

megawati/net

Kisah di Balik Pilkada Bali, Megawati Pun Diikuti Intel Sejak dari Jakarta

RABU, 09 OKTOBER 2013 | 06:48 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. PDI Perjuangan benar-benar merasakan ada upaya sistemik dan terstruktur dari pihak tertentu untuk mengalahkan jagoannya dalam Pilkada Bali. Upaya ini, bukan saja terkait dengan akrobat hukum di MK yang dipimpin Akil Mochtar dengan membolehkan pemilih mencoblos dua kali, namun juga terkait dengan operasi intelijen.

Dalam hal operasi operasi intelijen, Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, masih mengingat bahwa pada H-1 menjelang Pilkada Bali, dirinya mendapat informasi dari seorang wartawan tentang pengerahan sembilan satuan setingkat kompi (SSK) dari Brimob Surabaya ke Bali.

"Aneh karena setahu mereka, Bali hanya meminta maksimal 3 SSK saja," kata Hasto di Kediaman Megawati, di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan (Selasa, 8/10).


Kesembilan SSK Brimob itu, lanjut Hasto, ditempatkan di Buleleng, Tabanan, dan Jembrana. Tiga wilayah ini merupakan basis suara PDI Perjuangan, dan saat menjelang Pilkada, anehnya, diposisikan sebagai wilayah rawan konflik. Posisi sebagai wilayah rawan konflik ini pun menjadi dasar dan alasan untuk menempatkan sembilan SSK itu.

"Ketika Brimob datang, ada orang kita yang bertanya alasan mereka datang. Lalu mereka sampaikan pesan, Pak Mangku akan datang dan menang di sini, dan sehingga nanti dicurigai ada konflik," ungkap Hasto.

Mendengar kabar itu, Hasto pun langsung menelepon Megawati Soekarnoputri yang sedang berada di Jakarta. Megawati pun langsung memutuskan untuk terbang ke Bali, karena intuisi politiknya mengatakan ada yang tidak beres dalam Pilkada Bali.

Karena sudah malam hari, lanjut Hasto, Megawati datang langsung tanpa pengawal, dan hanya ditemani tiga perempuan. Dua di antara tiga perempuan itu adalah sekretaris Megawati. Dan begitu Megawati masuk ke dalam pesawat di Jakarta, kursi dua sekretaris itu sudah ditempati dua orang berambut cepak. Setelah berdebat lama, akhirnya kedua pria itu pindah ke belakang.

Saat pesawat tiba di Bali, salah satu dari orang berambut cepak itu masuk ke dalam mobil nomor dua dari beberapa mobil di rombongan Megawati. Orang itu langsung nyelonong mengambil kursi depan, dan meminta supir mobil untuk membawanya ke Puri Satryan, tempat tim pemenangan calon PDIP Puspayoga-Sukrawan.

Menyangka si pria adalah bagian dari rombongan Megawati, si supir tak protes. Keributan mulai muncul saat dua sekretaris tadi pun masuk ke mobil yang sama. Karena kaget melihat ada pria yang tadi ribut dengannya di pesawat, sang sekretaris langsung menanyai si lelaki.

"Si laki-laki itu mengaku orangnya Bu Mega. Ketika dicecar soal tanda pengenal, dia tak bisa menunjukkan. Akhirnya setelah ribut, orang itu disuruh untuk turun dari mobil di tengah jalan," jelasnya.

Kejadian lainnya yang sejenis adalah saat H-14 pencoblosan pilkada. Kediaman Megawati di Gianyar, Bali, didatangi oleh sejumlah orang bersenjata di dalam mobil. Merasa terintimidasi, pihak Megawati yang kebetulan sedang di sana, mempertanyakan alasan mereka datang. Saat ditanyai itu, rombongan orang tak dikenal itu mengaku mampir untuk buang air kecil. Karena ditolak, mereka akhirnya mengaku dari Semarang dan hendak melihat-lihat rumah Megawati.

"Tapi coba bayangkan, Presiden Kelima RI saja sampai diinteli? Ada apa?" Tegas Hasto.

"Dengan munculnya kasus Akil Muchtar ini, terangkai semuanya. Kita jadi paham kenapa Akil sampai berani mengambil keputusan yang kontroversial saat di MK. Sampai membolehkan pencoblosan dua kali sah. Kenapa? Karena sejak awal ini sudah dirangkai secara sistematis," ungkap Hasto.

Hal yang semakin memperkuat dugaan ada upaya sistemik dan terstuktur, masih kata Hasto, adalah adalah fakta bahwa kepala satuan Brimob saat peristiwa penurunan pasukan di Bali kini sudah dipromosikan menjadi Kapolda Jawa Timur.

"Tak tahu pastinya soal itu. Yang pasti Made Mangku Pastika itu memang purnawirawan polisi," imbuhnya. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya