Berita

tjahjo kumolo/net

PDI Perjuangan Serahkan Data Pilkada Bali ke KPK

RABU, 09 OKTOBER 2013 | 06:24 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Untuk mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengungkap duagaan suap di Mahkamah Konstitusi (MK) yang melibatkan Akil Mochtar, PDI Perjuangan membawa seluruh data Pilkada, terutama Pilkada Bali.

"Hari Senin, seluruh data pilkada Bali, kami serahkan ke KPK. Mulai Bu Mega diinteli dari Jakarta, sampai oknum intel masuk ke rumah Bu Mega, soal penggerakan Brimob, semua akan dimasukkan. Termasuk butir putusan MK bahwa mencoblos lebih satu kali itu boleh," kata Sekjen DPP PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, di kediaman Megawati, Kebagusan, Jakarta Selatan, Selasa malam (8/10).

Tjahjo berharap KPK mau mengecek ulang proses pilkada di Bali, termasuk berkas perkaranya yang diputus oleh Akil Muchtar. Apalagi sebelumnya, Jurubicara KPK, Johan Budi, memastikan bahwa siapapun bisa menyerahkan data terkait perilaku Akil Muchtar ke KPK.


"PDI Perjuangan berharap ada langkah KPK yang bisa memastikan apakah keputusan terkait pilkada diputus sendiri oleh Akil, atau panel Majelis Hakim MK. Kami sebagai masyarakat yang percaya KPK, akan kami sampaikan. Apakah ada indikasi permainan," tandasnya.

PDI Perjuangan yang mengusung pasangan AA Puspayoga-Dewa Sukrawan (PAS) di Pilgub Bali melayangkan gugatan sengketa pilgub ke MK setelah menengarai terjadinya kecurangan saat penghitungan surat suara. Mereka melawan pasangan Mangku Pastika-Sudikerta yang diusung Partai Demokrat dan Partai Golkar.

PDIP mendesak dilakukannya penghitungan ulang dengan membuka formulir C1 di beberapa TPS. Sebab PDI Perjuangan menemukan ada indikasi pencoblosan ganda saat pilgub. Sementara selisih suara sangat tipis yakni 910 suara.

Namun MK, melalui majelis hakim yang dipimpin Akil Muchtar, memutuskan bahwa mencoblos dua kali diperbolehkan. PDI Perjuangan sendiri sudah menyatakan bahwa sudah sejak awal pihaknya mendengar ada dugaan suap senilai Rp 80 miliar kepada Akil terkait Pilgub Bali. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya