Berita

ilustrasi/net

PDI Perjuangan Terus Berbenah Sikapi Pemilih Golput dan yang Digolputkan

KAMIS, 03 OKTOBER 2013 | 07:25 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ada dua hal terkait dengan partisipasi pemilih dalam pemilu. Pertama golput, dan kedua, "digolputkan". Golput bisa muncul sebagai  pilihan politik ataupun karena sikap yang muncul akibat kinerja Parpol yang dinilai belum memuaskan publik. Sedangkan "digolputkan," artinya ada rekayasa dari pihak tertentu yang dilakukan secara sistemik dan terstruktur melalui manipulasi daftar pemilih tetap (DPT).

Menyikapi dua fenomena ini, khususnya terkait dengan golput, kata Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto, PDI Perjuangan terus berbenah diri melalui institusionalisasi partai untuk semakin mendekatkaan wajah ideal partai di tengah rakyat. Misalnya melalui psikotest terhadap bakal caleg yang ditawarkan pada publik, atau dengan menggelar sekolah partai, yang secara khusus menyiapkan calon-calon pemimpin.

"Hasil survei yang dilakukan LSI bekerja sama dengan International Republiken Institute menunjukkan kinerja PDIP naik antara 6 persen sampai 10 persen dengan membandingkan kinerja partai antara tahun 2009 dan 2013. Dampaknya elektabilitas PDIP meningkat drastis," kata Hasto beberapa saat lalu (Kamis, 3/10).


Sedangkan terkait dengan pemilih yg digolputkan, lanjutnya, PDIP memiliki pengalaman buruk pada th 2009. Saat itu DPT dijadikan alat pemenangan oleh rejim yang berkusa. Bahkan DPT sengaja dimanipulasi, dan ada sekitar 11 modus manipulasi DPT, yang berdampak pada besarnya golput.

"Demikiaan halnya institusi negara yg seharusnya netral pun, ternyata berpihak. Bergabungnya Andi Nurpati ke Demokrat adalaah bukti nyata bahwa ada komisioner KPU yang tergoda pd kekuaasaan. Karena itulah jangan salahkan publik ketika menilai bahwa ada institusi negara yang dipakai untuk mendukung rejim yang berkuasa saat itu," demikian Hasto. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya