Berita

megawati soekarnoputri/net

Kekhawatiran Megawati Soekarnoputri pada Awal Pendirian MK Kini Terbukti

KAMIS, 03 OKTOBER 2013 | 06:13 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar, membuat Wasekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto, teringat proses awal pembentukan MK. Saat itu,  Megawati Soekarnoputri, dalam rapat di DPP PDI Perjuangan, sempat menanyakan apakah betul suatu tafsir atas konstitusi, yang dirumuskan dengan sangat baik dan membumi oleh para pendiri republik ini kemudian diserahkan pada sembilan orang hakim MK.

"Bukankah mereka pada akhirnya juga mewakili individu-individu yang tidak bisa terlepas dari kepentingan personal? Kepada siapa mereka harus bertanggung jawab, apabila tugas yang sangat penting untuk mengawal konstitusi itu kemudian dirusak oleh orang per orang?" kata Hasto, menirukan kembali pertanyaan Megawati, beberapa saat lalu (Kamis, 3/10).

Namun, lanjut Hasto, karena euforia politik saat itu yang memang menuntut MK harus didirikan, Megawati, yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI, pun secara konsisten melaksanakan keputusan MPR. Bahkan dalam bayangan Megawati, aspek kenegarawanan dari hakim MK itu ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat dalam sistem politik Indonesia.


"Atas dasar hal tersebut, maka Megawati Soekarnoputri kemudian mencarikan sendiri lokasi yang paling cocok untuk gedung MK. Karena itulah Gedung MK sengaja dipilih di lokasi yang sangat strategis dan berada di ring satu pemerintahan Negara RI," jelas Hasto.

Harapan Megawati, masih kata Hasto, hakim MK benar-benar memiliki kenegarawanan yang sangat kuat. Namun akhirnya harapan ini diruntuhkan hanya karena suatu napsu untuk memperkaya diri dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya.

"Sungguh ironis, betapa jauhnya antara cita-cita dan kenyataan. Kekhawatiran Megawati pada awal pendirian MK kini terbukti," demikian Hasto. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya