Berita

sabam-jokowi/net

Politisi Senior Dukung Langkah Jokowi Gandeng Walikota Rotterdam Atasi Banjir

SELASA, 24 SEPTEMBER 2013 | 10:21 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Warga dunia harus saling belajar satu sama lain. Sebab dalam beberapa hal, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, satu negara di satu benua bisa lebih maju dibandingkan dengan negara di belahan bumi yang lain. Dalam hal sistem pengairan misalnya, Jepang dan Mesir belajar ke Eropa. Sementara dalam hal perkebunan sawit atau sistem irigasi sawah banyak negara lain yang belajar ke Indonesia.

Karena itu, politisi senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait, mendukung langkah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang menggandeng Walikota Rotterdam Belanda untuk menimba pelajaran dalam hal mengatasi masalah banjir di ibukota. Langkah kerjasama Jokowi ini pun sebenarnya sudah dilakukan di era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Sebab Rotterdam memang salah satu kota di Belanda yang berada di bawah permukaan laut, namun bisa mengatasi persoalan banjir.

Kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 24/9), tokoh nasionalis yang mencalonkan menjadi senator atau anggota DPD dari Jakarta di Pemilu 2104 mendatang ini mengaku sudah beberapa kali datang ke Roterrdam. Dan memang, bila dilihat dari dari daerah yang lebih tinggi, terlihat jelas Rotterdam ada bawah permukaan laut. Kondisi yang sama, juga ada di Jakarta. Sebab posisi Gambir dan kawasan Istana Merdeka berada di bawah permukaan laut.


"Belanda disebut Netherland karena dua per tiga tanahnya berada di bawah laut. Jadi saya kira memang sudah wajar bila saling belajar. Mungkin ada anggapan, Belanda kan bekas penjajah. Tapi belajar hal yang baik dan pas, harus ke siapapun. Dalam Hadits umat Islam kan juga disebutkan, belajarlah meski ke negara China," kata Sabam, yang juga pendiri PDI, sebelum akhirnya berubah jadi PDI Perjuangan.

Dalam hal kerjasama dengan kota atau negara lain ini, masih kata Sabam, mendapat landasan dari Pancasila. Sebab di antara sila dalam Pancasila selain Ketuhanan yang Maha Esa adalah nasionalisme-kebangsaan, keadilan sosial, demokrasi, juga internasionalisme, yang secara jelas disebut sebagai kemanusiaan. Kerjasamaa yang dilakukan Jokowi bisa masuk dalam ketegori internasionalisme tadi.

"Tentu saja, kerjasama itu jangan sampai merugikan kepentingan nasional Indonesia. kita. Selama saling menguntungkan, bagus-bagus saja," demikian Sabam. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya