Berita

foto: net

Dunia

Putin Sindir Temuan Rudal Soviet di Suriah

JUMAT, 20 SEPTEMBER 2013 | 16:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyindir temuan tim Perserikatan Bangsa Bangsa yang menyinggung rudal yang diduga membawa gas sarin dalam penyerangan rakyat sipil di kawasan Ghouta, pinggiran Ibukota Damaskus, pada 21 Agustus lalu.

Rudal yang ditemukan PBB itu merupakan rudal buatan lama dari Uni Soviet. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan, pernyataan yang menyinggung rudal buatan bekas negara induk dari Rusia itu merupakan bentuk provokasi yang cerdas, namun juga primitif.

"Kami memiliki setiap alasan untuk percaya bahwa itu adalah provokasi. Tentu saja, itu cerdas dan pintar. Tapi pada saat yang sama, primitif dalam hal kinerja teknis. Mereka mengambil rudal tua buatan Uni Soviet, yang diperbaiki dari tentara Suriah beberapa waktu lalu. Yang terpenting adalah terdapat tulisan 'made in the USSR')," kata Putin dalam forum diskusi Valday pada hari Kamis (19/9), seperti ditulis Russia Today.


Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi Suriah, Qadri Jamil, seperti yang dikutip dari the Guardian, menilai bahwa rudal yang ditemukan PBB tersebut merupakan rudal lama buatan Uni Soviet yang diekspor ke Libya pada era 1970-an.

Putin menyatakan bahwa bahan kimia yang digunakan dalam serangan senjata harus benar-benar diselidiki, begitu juga mereka yang berada di balik itu.

Putin juga menyindir tindakan Amerika Serikat yang sebelumnya memiliki rencana serangan militer terhadap Suriah. Menurutnya, langkah-langkah seperti serangan militer tidak bisa memecahkan setiap masalah internasional. Karena itu, Putin menilai lebih baik permasalahan Suriah dibawa ke Dewan Keamanan PBB daripada dibahas di Kongres Amerika Serikat.

"Itu (serangan militer) dapat menyerang tatanan dunia, tapi bukan Suriah," katanya.

Di sisi lain Putin mengatakan bahwa dirinya tidak 100 persen yakin bahwa pemerintahan Suriah benar-benar akan memenuhi sepenuhnya kesepakatan pembongkaran senjata miliknya. Namun, ia menilai bahwa perkembangan terakhir memberikan tanda-tanda positif dari Suriah.

Awal bulan ini, Rusia dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan pada kerangka kerja terkait penyerahan dan penghancuran senjata kimia Suriah pada pertengahan 2014. Suriah juga setuju untuk bergabung dengan konvensi senjata kimia yang melarang produksi dan penggunaan senjata kimia.

"Ini adalah langkah-langkah praktis yang telah dibuat pemerintahan SUriah," kata Putin.

PBB mengkonfirmasi bahwa pada Minggu kemarin telah menerima seluruh data dan dokumen Suriah yang dibutuhkan untuk bergabung dengan konvensi senjata kimia. Suriah akan menjadi anggota pada 14 Oktober mendatang. [ald]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Indeks Persepsi Korupsi RI Tetap Rendah, Padahal Rajin Nangkap Koruptor

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:17

Adu Prospek Sesi II: BNBR-BRMS-BUMI, Mana yang Lebih Tangguh?

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:11

Sandiaga Uno: Jangan Masuk Politik karena Uang

Kamis, 22 Januari 2026 | 14:06

Grup Bakrie Jadi Sorotan, Saham DEWA dan BRMS Pimpin Pergerakan di Sesi Siang

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:56

Angkot Uzur Tak Boleh Lagi Wara Wiri di Kota Bogor

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:53

BNBR Fluktuatif di Sesi I: Sempat Bertahan di Rp230, Kini Menguji Level Support Rp200

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:48

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Sufmi Dasco Tegaskan Pilpres Tetap Dipilih Rakyat Langsung

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:35

Ekspor Ekonomi Kreatif RI Catat Tren Positif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:29

Aplikasi jadi Subsektor Tertinggi Investasi Ekonomi Kreatif

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:16

Selengkapnya