Berita

lalu mara/net

Budidaya Puyuh Prospektif Tingkatkan Pendapatan Masyarakat NTB

SELASA, 17 SEPTEMBER 2013 | 11:18 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Usaha budidaya burung puyuh sangat prospektif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Sebab, ternyata, burung puyuh bisa dimanfaatkan dari hulu hingga hilir. Telurnya yang mengandung protein yang tinggi, hingga kotorannya yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi dan pupuk.

Paling tidak itulah kesimpulan yang didapatkan Wakil Sekjen Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa saat bersilaturrahmi dengan masyarakat Pringgasela di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Haji Nurdin, pemilik rumah yang menjadi tempat silaturrahmi, ternyata telah berhasil membuat reaktor biogas dari kotoran puyuh. Bahkan bisa dikatakan, Nurudin adalah orang pertama di NTB yang menggagas kotoran puyuh jadi biogas.

"Dengan investasi sebesar Rp 7 juta, H. Nurudin membangun reaktor biogas. Tentu, sebelumnya ia membudidaya burung puyuh sebanyak 300 ekor," kata Lalu Mara kepada Rakyat Merdeka Online menyampaikan kekagumannya beberapa saat lalu (Selasa, 17/9).


Nurudin, lanjut Mara, memanfaatkan kerjasama Indonesia-Belanda melalui Progran Hivos dan Program Indonesia Biru untuk merealisasikan gagasannya tersebut. Ia pun sudah dikunjungi gurubesar dan ahli dari Belanda terkait pemanfaatan kotoran puyuh untuk biogas.

"Sungguh sangat luar biasa, karena pengolahan kotoran puyuh menjadi biogas tak membutuhkan teknologi yang luar biasa, tapi sangat tepat guna. Terbayang bila kotoran puyuh, ayam, kuda, sapi, babi dan hewan lainnya di NTB diolah menjadi biogas, sungguh akan sangat mengurangi beban APBN dalam menanggung subsidi energi," ujar Lalu Mara.

Caleg DPR dari Dapil NTB ini pun menambahkan bahwa program tersebut juga sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan, karena telur puyuh laku di pasar, sementara kotorannya menghilangkan pengeluaran untuk bahan bakar minyak (BBM) rumah tangga. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya