Berita

ilustrasi/net

Dimana Posisi Pemenang Konvesi Bila Demokrat Tak Bisa Usung Capres dan Cawapres?

SENIN, 16 SEPTEMBER 2013 | 07:26 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kursi presiden menggiurkan banyak orang. Sehingga banyak tokoh yang tidak mengukur baju dan lupa pada cermin. Untuk bisa maju sebagai calon presiden, maka tidak ada jalan lain kecuali ikut konvensi Demokrat.

"Sehingga tidak heran jika peserta konvensi tersebut berisi beragam tokoh. Dari tokoh yang memang sudah diakui ketokohannya,  hingga tokoh abal-abal. Mereka tampak kehilangan rasionalitas," kata Wakil Bendahara Golkar, Bambang Soesatyo, beberapa saat lalu (Senin, 16/9).

Bambang mencatat, dengan data kompilasi dari berbagai hasil survei, mustahil Demokrat mengusung sendiri capres dan cawapresnya. Karena syarat untuk bisa mengajukan pasang capres dan cawapres, partai atau gabungan partai pengusung harus mencapai 20 persen kursi di DPR. Atau minimal memperoleh 25 persen dari total suara sah pemilu legislatif pada 2014 sebagaimana ketentuan Undang-undang No.42 tahun 2008 tentang Pilpres.


Artinya, Bambang menyimpulkan, kalau tidak ada perubahan aturan dan kentuan UU tentang Pilpres serta  perubahan cuaca politik yang signifikan, maka dapat diperkirakan pada 2014 nanti hanya ada tiga jangkar pengusung capres dan cawapres. Yakni, Golkar dan koalisinya, PDIP dengan koalisinya dan Gerindra bersama gabungan partai-partai kecil yg tidak masuk dalam koalisi Golkar maupun PDIP.

Sehingga, lanjutnya, kemungkinan besar pada 2014 nanti hanya ada tiga pasangan capres dan cawapres. Bahkan bukan tidak mungkin hanya ada dua jangkar yang akan mengusung dua pasangan calon, yakni Golkar dengan koalisinya dan PDIP plus Gerindra dengan sekutunya. Atau Golkar plus PDIP dan Gerindra plus PAN, PKB, PD  serta beberapa partai kecil lainnya.  

"Pertanyaanya kemudian adalah, dimana posisi capres pemenang konvensi?" tanya Bambang. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya