Berita

Politik

PERGANTIAN KAPOLRI

Manuver Politik Kompolnas Pecah Belah Polri

SENIN, 09 SEPTEMBER 2013 | 19:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ind Police Watch (IPW) menyayangkan manuver politik yang dilakukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Setidaknya, dalam dua bulan terakhir, ada tiga manuver politik yang dilakukan Kompolnas yang bisa membuat internal Polri terpecah bela.

"Pertama, Kompolnas merekrut sejumlah pati menjadi bakal calon Kapolri. Padahal belum ada surat permintaan dari presiden, terutama ke internal Polri agar mempersiapkan proses pergantian Kapolri," ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/9).

Manuver politik kedua, jelas Neta, Kompolnas mewawancarai para bakal calon Kapolri dan meminta mereka melaporkan kekayaannya ke KPK. Dalam hal ini para pati cenderung dijadikan kelinci percobaan.


Ketiga, Kompolnas mengumumkan ada tiga pati bakal calon kapolri punya rekening gendut padahal sejauh ini belum ada proses hukum terhadap kasus rekening gendut di Polri. Bahkan Kapolri Bambang Hendarso Danuri waktu itu sudah mengatakan bahwa kasus rekening gendut Polri sudah selesai. KPK pun tidak pernah mau menyidik kasus tersebut.

"Dari ketiga manuver politik ini, IPW menilai Kompolnas sudah melakukan pembunuhan karakter, baik terhadap Kapolri Timur Pradopo maupun terhadap para bakal calon kapolri, terutama yang disebut-sebut terlibat rekening gendut," tegas Neta.

Lebih lanjut Neta mengatakan manuver politik yang dilakukan Kompolnas ini sangat tidak etis dan bisa dinilai sebagai sebuah upaya untuk mendukung dan menggolkan calon tertentu. Untuk itu IPW mendesak Kompolnas segera meminta maaf, terutama terhadap Kapolri Timur Pradopo yang sudah terzalimi akibat adanya isu pergantian Kapolri yang digulirkan Kompolnas. Sebab, sejauh ini belum terlihat ada tanda-tanda dari presiden akan mengganti Jenderal Timur, sementara masa pensiun timur sendiri baru jatuh tempo pada Januari 2014.

"Untuk itu IPW berharap, Kompolnas menghentikan manuver politiknya sampai kemudian ada surat dari presiden ke Polri yang meminta diprosesnya pergantian Kapolri. Jika manuver politik kompolnas ini dibiarkan akan terjadi tarik menarik di internal Polri. Akibatnya, Polri tidak solid akibat intervensi pihak luar," demikian Neta. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya