Berita

Dahlan Iskan/net

Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan Berpotensi Kalahkan Popularitas Jokowi

JUMAT, 06 SEPTEMBER 2013 | 14:49 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Adanya fenomena konvensi calon presiden yang digulirkan Partai Demokrat membuat lembaga big data analytics di Singapura, Purengage, melakukan pemetaan untuk menjajaki popularitas dan favourabilitas capres konvensi dan non konvensi di mata publik dan media.

Penelitian yang dilakukan Purengage pada 1 Juli- 31 Agustus ini menghasilkan beberapa temuan yang didasarkan pada pemberitaan di media online dan percakapan di twitter.

"Dengan adanya konvensi, persaingan akan semakin ketat dan kami melakukan penelitian untuk memetakan kandidat-kandidat terkuat untuk pilpres 2014," ujar Gusrizal Algamar selaku Business Director Purengage, dalam konferensi pers di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/9).


Joko Widodo alias Jokowi memiliki indeks pemberitaan tertinggi di media online yaitu 1,75 disusul kemudian oleh Dahlan Iskan yang mencapai indeks 1,18. Hasil ini menyimpulkan bahwa Jokowi berhasil mengelola opini media massa selama ia menjabat sebagai Gubernur DKI.

Namun, Gita Wirjawan (salah satu peserta konvensi) juga menjadi perhatian tersendiri. Ini lantaran ketua PBSI itu memiliki indeks percakapan di twitter, yang paling tinggi mencapai 1,34 yang juga disusul oleh Dahlan Iskan 1,24, dan Jokowi 1,03.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, meskipun saat ini memiliki tingkat favourabilitas dan popularitas yang tinggi, Jokowi tetap harus  memperhatikan sentimen di media sosial. Ini mengingat banyaknya jumlah pengguna media sosial yang mencapai lebih dari 60 juta jiwa dan cepatnya persebaran berita dan percakapan di media sosial yang mencapai 0,01 detik di twitter.

"Secara favourabilitas dan popularitas, Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan saat ini boleh berada di bawah Jokowi. Namun, kita akan pantau dalam beberapa bulan ke depan. Mungkin saja Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan dapat menjadi kandidat terkuat," imbuh Gusrizal.

"Persaingan di bursa capres akan menjadi semakin ketat mendekati 2014. Tokoh-tokoh politik konvensi dan non konvensi masing-masing memiliki popularitas serta favourabilitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja," tandasnya. [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya